Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 07:15 WIB

Bersaing dengan Vietnam, Properti Indonesia Diburu

Oleh : - | Rabu, 25 Januari 2017 | 20:19 WIB
Bersaing dengan Vietnam, Properti Indonesia Diburu
Jones Lang LaSalle - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Konsultan properti internasional Jones Lang LaSalle menyatakan, investasi properti yang paling diminati di kawasan ASEAN terindikasi kuat di Asia Tenggara. Tepatnya di Vietnam dan Indonesia.

"Potensial telah ada dari lama sejak Indonesia menawarkan potensi dalam hal skala seperti demografi dan populasi yang diperlukan logistik untuk tumbuh berkembang," kata Managing Director Singapore and Southeast Asia JLL Chris Fossick dalam rilis di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Apalagi, menurut Chris Fossick, sektor logistik yang selama ini lemah, mulai diperbaiki dengan gencarnya pembangunan infrastruktur. Selain itu, pemerintahan Joko Widodo aktif melakukan deregulasi dan debirokratisasi untuk mempermudah masuknya investasi.

Dia berpendapat bahwa dengan meningkatnya stabilitas politik dan ekonomi serta pertumbuhan permintaan produk konsumen, hal itu juga akan memperluas ruangan properti logistik.

Sementara Vietnam, JLL mengatakan negara tersebut sedang naik daun dalam hal investasi properti seperti dalam sektor perkantoran, rumah tinggal, dan ritel.

"Sektor real estat di Vietnam sedang berkembang sejak 2015, didorong sebagian oleh reformasi pemerintahan terbaru, seperti persyaratan finansial yang lebih kuat bagi pengembang dan relaksasi aturan investasi asing," katanya.

Berdasarkan data JLL, kawasan Asia Tenggara terus menjadi titik terang dalam fenomena perekonomian global, karena perekonomian ASEAN diperkirakan tumbuh sekitar 5 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan global 3,5 persen/tahun.

Sebelumnya, konsultan properti Colliers International menginginkan pertumbuhan perekonomian yang dicapai Indonesia dapat dioptimalkan karena dinilai mampu mendorong pengembangan sektor properti termasuk kawasan perkantoran.

"Pertumbuhan ekonomi saat ini tidak terlalu cukup untuk mendorong sektor perkantoran untuk naik," kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam paparan properti di Jakarta, Kamis (5/1).

Menurut Ferry Salanto, kondisi properti pada umumnya tergantung kepada kondisi makroekonomi yang dapat terlihat dari jumlah Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) di suatu negara.

Sedangkan terkait sektor properti perkantoran, Ferry menyoroti pasokannya yang masih berlebihan padahal tingkat permintaan untuk area perkantoran juga tidak besar.

Dia juga mengungkapkan, karena banyaknya pasokan, bahkan ada suatu gedung perkantoran yang okupansi atau tingkat keterisiannya di bawah 60 persen.

"Idealnya saat office (bangunan kantor) beroperasi itu minimal seharusnya 60 persen terisi. Kalau di bawah 60 persen, itu akan sulit buat landlord (pemilik gedung yang menyewakan) untuk menutupi operating cost-nya, seperti biaya listrik dan security yang terus jalan," katanya.

Dari hasil proyeksi Colliers, berdasarkan data simulasi, maka rata-rata penyerapan ruang kantor dalam jangka waktu tiga tahun ke depan masih sekitar 250.000 meter persegi/tahun, sedangkan pasokannya sekitar 750.000 meter persegi/tahun.

Karena banyaknya pasokan dan minimnya permintaan, maka ke depannya juga diperkirakan masih akan terjadi perang harga dan terkoreksinya asking price (harga awal penawaran) gedung perkantoran. [tar]

Komentar

 
x