Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 26 Juni 2017 | 01:57 WIB

Kemenperin: Negara Maju Kalau Industrinya Tangguh

Oleh : M fadil djailani | Kamis, 2 Februari 2017 | 10:11 WIB
Kemenperin: Negara Maju Kalau Industrinya Tangguh
Pejabat (Plt) Sekretaris Jenderal Kemenperin, Haris Munandar - (Foto: Kemenperin)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Diam-diam, Kementerian Perindustrian (kemenperin) punya filosofi bagus. "Suatu negara dikatakan maju kalau punya industri yang tangguh." Tapi, yang penting realisasinya bukan sekedar filosofi.

Pejabat (Plt) Sekretaris Jenderal Kemenperin, Haris Munandar bilang, sebagai negara berkembang (emerging markets), Indonesia memiliki pasar yang sangat besar.

Untuk itu, Haris bilang, Indonesia sebagai negara berkembang harus bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Selain itu, Indonesia juga harus bisa meningkatkan produktivitasnya.

"Beberapa upaya strategis yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti paket kebijakan ekonomi danpenurunan harga gas, diharapkan mampu mendongkrak kinerja pertumbuhan industri nasional yangsignifikan di tahun ini," kata Haris dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (01/02/2017).

Haris mengungkapkan, sasaran pembangunan industri non-migas pada 2017, antara lain pertumbuhan ditargetkan 5,5%, sumbangan industri terhadap perekonomian nasional sebesar 18,7%, kontribusi ekspor industri terhadap total ekspor 76,8%, penyerapan tenaga kerja sebanyak 16,3 juta orang, dan nilai tambah yang diciptakan dari luar Pulau Jawa sekitar 28,4%. "Agar bisa mencapai target-target tersebut, kami telah menetapkan enam kebijakan prioritas untuk medukung pengembangan industri nasional," ujar Haris.

Keenam kebijakan yang dimaksud, kata Haris, adalah penguatan SDM melalui vokasi industri, pendalaman struktur industri melalui penguatan rantai nilai, mendorong kinerja industri padat karya dan berorientasi ekspor, pengembangan IKM melalui platform digital, pengembangan industri berbasis sumber daya alam, serta pengembangan perwilayahan industri.

Oleh karena itu, Haris menegaskan, kemenperin optimistis, melalui program hilirisasi industri dapat meningkatkan nilai tambah bagi sumber daya alam di Indonesia. "Misalnya, dari sisi hilirisasi di sektor pertambangan, seperti di Kawasan Industri Morowali yang tengah mengembangkan industri smelter berbasis nikel pig iron untuk menjadi stainless steel," sebutnya.

Menurut Haris, jika hilirisasi di sektor tersebut berjalan lancar, Indonesia akan menghasilkan empat juta ton stainless steel pada 2018-2019 dan menjadi produsen ketiga terbesar di dunia setelah Tiongkok dan Eropa.

"Saat ini, perkembangan hilirisasi industri berbasis logam mencakup 32 perusahaan dengan total nilai investasi 16,3 miliar dolar AS di 22 kabupaten/kota dan 11 provinsi," tuturnya.

Selanjutnya, perkembangan hilirisasi industri berbasis agro mencakup 21 perusahaan, total nilai investasi US$3,47 miliar di 9 provinsi. Sedangan, perkembangan hilirisasi industri berbasis migas dan batubara, yakni ada 9 perusahaan dengan total nilai investasi US$15,35 miliar di 6 provinsi.

"Rencana investasi industri tahun 2017-2020, ditargetkan mencapai 91 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp662 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 544 ribu orang," ungkapnya.

Haris menyampaikan, Kemenperin tengah mendorong industri padat karya berorientasi ekspor, yang diharapkan menambah kontribusi besar terhadap devisa negara dan serapan tenaga kerja. "Kami telah memfasilitasi pembangunan kawasan industri termasuk di luar pulau Jawa. Hal ini sejalan dengan instruksi Presiden Joko Widodo yang memfokuskan tahun ini pada pemerataan," jelasnya. [ipe]

 
x