Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 25 Mei 2017 | 02:30 WIB

Tahun Ini, BI Diprediksi Sulit Turunkan Suku Bunga

Oleh : - | Kamis, 2 Februari 2017 | 18:18 WIB
Tahun Ini, BI Diprediksi Sulit Turunkan Suku Bunga
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Tahun ini, Bank Indonesia (BI) tak punya banyak ruang untuk melonggarkan suku bunga acuan. Alhasil, stimulus perekonomian hanya bisa dijalankan melalui kebijakan makroprudensial.

Ekonom Senior Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, tekanan inflasi domestik dan ketidakpastian ekonomi global, telah menutup ruang bagi penurunan suku bunga acuan (7-Day Reverse Repo Rate) yang saat ini sebesar 4,75%.

"Bahkan bukan menurunkan bunga acuan, tapi BI bisa menaikkan bunga acuan jika inflasi berpotensi melebihi lima persen," kata Andry di Kantor Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (2/2/2017).

Andry melihat, lebih tepat jika bank sentral mempertimbangkan pelonggaran kebijakan makroprudensial, seperti relaksasi pengajuan kredit perbankan.

Kebijakan makroprudensial terakhir kali ditempuh BI pada 2016 dengan menaikkan rasio Loan To Value (LTV) menjadi 85%. Kebijakan ini meringankan uang muka KPR (kredit pemilikan rumah) menjadi hanya 15% saja.

Mengenai kebijakan BI untuk mengubah skema penentuan bunga instrumen operasi pasar terbuka (OPT) selain yang bertenor tujuh hari menjadi "variable rate tender", Andry melihat penyesuaian itu memang dapat lebih cepat mempengaruhi suku bunga dana perbankan.

Namun, transmisi kebijakan moneter ke suku bunga dana perbankan juga akan lebih dipengaruhi oleh kondisi likuiditas global, sehingga gejolak pasar keuangan global akan sangat menentukan efektivitas kebijakan BI.

"Perubahan skema penentuan suku bunga instrumen OPT akan lebih mempengaruhi tingkat bunganya teutama untuk tenor jangka pendek seperi tenor satu bulan dan tiga bulan," ujar Andry.

Sejauh ini, kata Andry, tim ekonomi Bank Mandiri melihat, inflasi 2017 masih akan bergerak di kisaran 4,2% (year on year), seperti proyeksi yang diumumkan pada awal tahun.

Laju inflasi bisa meningkat signifikan jika BI dan pemerintah gagal meredam tekanan pada kelompok harga barang yang bergejolak (volatile food), dan inflasi inti.

Pengendalian yang efektif perlu dilakukan pada inflasi volatile food, mengingat tekanan kencang dari inflasi kelompok tarif barang yang diatur pemerintah (administered prices).

"Bagaimana cara menjaga distribusi pangan, suplai makanan. Jangan sampai gara-gara komoditas nanti memperburuk semua," ujar dia.

Hingga Januari 2017, inflasi tahun kalender sebesar 0,97 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) 3,49 persen.

BI menargetkan inflasi tahun ke tahun di rentang 3-5 persen pada 2017, setelah pada 2016 inflasi tahun ke tahun sebesar 3,02 persen (yoy). [tar]

 
x