Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 23 Februari 2017 | 05:04 WIB
Hide Ads

Lengser dari Pertamina, Ini Warisan Dwi Soetjipto

Oleh : Uji sukma medianti | Selasa, 14 Februari 2017 | 06:29 WIB
Lengser dari Pertamina, Ini Warisan Dwi Soetjipto
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Saat memimpin PT Pertamina (Persero), Dwi Soetjipto memang bertangan dingin. Iertamina berhasil membukukan laba bersih US$3,4 miliar, setara Rp40,82 triliun (kurs Rp 13.000/US$) di 2016.

Angka ini menunjukkan peningkatan lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebesar USD 1,42 miliar USD.

Wianda Pusponegoro, Vice Precident Corporate Communication Pertamina bilang, capaian ini dua kali lipat ketimbang laba bersih 2015 sebesar US$1,42miliar. Di mana, sebagian besar disumbang dari efisiensi serta inovasi bisnis hilir. "Angka ini salah satunya terjadi akibat adanya efisiensi biaya senilai usd 280 juta," tutur Wianda di Jakarta, Senin (13/2/2017).

Disamping itu, Wianda mengatakan, Pertamina melakukan peninjauan kembali terhadap proyek-proyek yang sudah direncanakan. Tujuannya, bisa mendorong proyek prioritas lebih cepat.

Wianda mengklaim, Pertamina dapat survive di tengah harga minyak dunia yang tengah merosot pada 2015 dan 2016. "Yang penting lainnya adalah (di tengah) harga minyak dengan level yang sangat kompetitif, walaupun crude turun, biaya produksinya diharapkan rendah. Dengan biaya produksi 79 persen, MOPS kita masih bisa menghasilkan produk yang tinggi," ujarnya.

Wianda juga memaparkan sukses di bisnis hilir. Untuk penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax, misalnya, terjadi kenaikan signifikan sejak Januari hingga Desember 2016.

Pada Januari, pengguna Pertamax hanya 8,4%, naik menjadi 20% pada Desember 2016 pengguna Pertamax mencapai 20%. Sedangkan konsumsi gasoline mencapai 5,8 juta kiloliter (KL) di 4.646 SPBU.

Untuk pengguna Pertalite menunjukkan kenaikan paling signifikan dari 4,2% (Januari 2016) menjadi 27% (Desember 2016). Peningkatan jumlah pengguna BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertalite ini, berbanding terbalik dengan penggunaan BBM bersubsidi jenis premium. "(Pengguna) Premium turun dari 86,8 persen pada Januari 2016 menjadi 53 persen pada Desember 2016," tukasnya. [ipe]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x