Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 26 Juni 2017 | 05:38 WIB

Eks PM Togo Presiden IFAD, Menteri Bambang Keok

Oleh : Ahmad barok | Kamis, 16 Februari 2017 | 05:39 WIB
Eks PM Togo Presiden IFAD, Menteri Bambang Keok
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Roma - Pemilihan Presiden International Fund for Agricultural Development (IFAD) akhirnya dimenangkan mantan PM Togo, Gilbert Fossoun Houngbo.

Kemenangkan Houngbo ini, setelah dilakukan pemilihan sebanyak dua ronde dalam sidang tahunan IFAD yang berlangsung di Roma, Italia, pada 14-15 Februari 2017.

Houngbo berhasil meraih 54,432% suara, mengalahkan 7 kandidat lainnya. Posisi kedua ditempati oleh Politikus Italia Paolo De Castro dengan jumlah suara 20,341%. Sementara posisi ketiga ditempati Wakil Indonesia, Bambang PS Brodjonegoro yang meraih 17,654% suara.

"Houngbo, Paolo De Castro dan Bambang Brodjonegoro berhasil maju ke ronde kedua setelah meraih suara terbanyak pada ronde pertama. Di ronde pertama, Houngbo meraih 39,623% suara, Paolo De Castro 15,088% dan Bambang 15,088%," jelas Danang Rizki Ginanjar, Staf Khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas yang sedang berada di Roma mengikuti proses pemilihan, Rabu (15/2/2017).

Dengan begitu, Houngbo akan menjadi Presiden IFAD masa jabatan 2017-2021 dan mulai bertugas tanggal 1 April 2017. Pemilihan Presiden IFAD, lanjut Danang, ditentukan oleh besar kecilnya kontribusi permodalan masing-masing negara kepada IFAD. Saat ini terdapat 18 negara anggota IFAD yang memiliki lebih dari 50% total hak suara memilih dari total 176 negara anggota.

Adapun 10 negara yang memiliki hak suara paling besar adalah Amerika Serikat 6,98%, Italia 4,22%, Jerman 4,09%, Jepang 4,09%, Belanda 3,83%, Arab Saudi 3,52%, Kanada 3,44%, Inggris 3,29%, Swedia 3,12% dan Prancis 3%. Indonesia sendiri memiliki hak suara sebesar 0,73% dan berada di urutan ke-25.

Dari delapan calon yang bertarung memperebutkan kursi Presiden IFAD, yakni Indonesia, Turki, Italia, Swiss, Dominika, Maroko, Togo, dan Meksiko, pertarungan sengit justru dilakukan oleh Italia dan pendukung Togo, yakni Prancis.

Menurut Danang, Italia pada detik-detik terakhir justru menambah modalnya sehingga porsi suaranya bertambah guna memberikan dukungan kepada kandidatnya. Dari sebelumnya ranking-8 menjadi rangking-2 terbesar suaranya.

Prancis bahkan menjadi juru bicara memiliki kampanye bagi Togo. Prancis memiliki pengaruh sangat kuat di kalangan negara-negara Afrika termasuk di Eropa. Beberapa negara Eropa dan Afrika yang memiliki hak suara besar adalah Norwegia 2,6%, Swiss 1,5%, Belgia 1,35%, Denmark 1,34%, Nigeria 1,15%, Austria 1,14%, Spanyol 0,95%, Finlandia 0,94%, Aljazair 0,79%, Uni Emirat Arab 0,63%, Libya 0,56%, Meksiko 0,55%, dan Qatar 0,52%.

Di luar itu, negara yang memiliki daya tawar suara sangat kecil, seperti Kuwait 1,74%, Venezuela 1,61%, China 1,46%, India 1,44%, Brazil 0,82%, Indonesia 0,73%, dan Irak 0,63%,

Pakar hukum internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana melihat pemilihan Presiden IFAD sangat tergantung pada hak suara negara pendukung para kandidat.

"Jadi intinya semua tergantung negara lain yang mendukung. Baik di Afrika maupun negara Barat. Bukan sosok siapanya tapi lebih kepada dukungan ," jelas dia.

Sebenarnya Indonesia memiliki kans besar untuk menjadi pemimpin atau Presiden lembaga Dana Internasional untuk Pengembangan Agrikultural (International Fund for Agricultural Development/IFAD). Syaratnya, negara tidak membiarkan calon Presiden IFAD, Bambang Brodjonegoro yang saat ini menjabat Menteri Bappenas berjuang sendiri. "Kita punya kans besar. Bicara soal figur, Pak Bambang banyak pengalaman. Pernah memegang beberapa jabatan penting di Indonesia," kata Hikmahanto.

Menurut Hikmahanto, dalam pencalonan ini yang berat adalah sangat diperlukannya negara-negara pendukung yang menjadi bagian atau konstituen Indonesia untuk satu suara mendukung pencalonan Bambang Brodjonegoro. Dengan dukungan pemerintah Indonesia secara kompak maka akan lebih mudah untuk mendapatkan suara dari negara tetangga.

"Sebagai negara, Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka negara harus bisa bisa membantu dan melobi banyak negara lainnya. Intinya pemerintah harus kompak mendukung," tuturnya.[ipe]

 
x