Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 27 Maret 2017 | 11:45 WIB
Hide Ads

Benarkah Utang Swasta Turun? Ini Penjelasan BI

Oleh : M fadil djailani | Senin, 20 Februari 2017 | 05:39 WIB
Benarkah Utang Swasta Turun? Ini Penjelasan BI
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Bandung - Menurut Bank Indonesia (BI), penurunan jumlah utang luar negeri (ULN) dari swasta, bukan semata-mata karena keengganan korporasi untuk berekspansi. Namun ada 2 faktor pemantiknya.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Yoga Affandi, menyebut penerapan prinsip lindung nilai (hedging), serta atraktifnya sumber pendanaan dari dalam negeri.

Saat ini, kata Yoga, BI meningkatan pengawasan kepada korporasi agar menerapkan prinsip lindung nilai (hedging), sebagian besar debitur mulai berhati-hati dalam menarik utang luar negeri.

Hasilnya, menurut Yoga, luar biasa. Penarikan ULN dari kalangan swasta, turun signifikan. "Semakin banyak korporasi yang menerapkan hedging. Dan itu kami awasi terus, agar eksposur terhadap utang valas tidak menimbulkan risiko," ujar Yoga.

Menurut catatan BI, terdapat 2.540 perusahaan di dalam negeri yang memiliki ULN. Mereka diharuskan melaporkan prinsip kehati-hatian. Merujuk data awal 2016, 93% dari total perusahaan tersebut sudah melaporkan penerapan prinsip kehati-hatian kepada BI. Di mana, implementasi dari prinsip tersebut memasukkan hedging.

Faktor kedua, kata Yoga, adalah semakin menariknya imbal hasil, atau bunga instrumen utang di pasar finansial dalam negeri. Akibatnya, banyak korporasi lebih memilih untuk menarik pendanaan dari pasar finansial domestik dengan menebitkan instrumen utang.

Alhasi, lanjutnya, volume instrumen utang di pasar finansial meningkat tajam di 2016, hingga menyaingi volume penyaluran pembiayaan dari perbankan. "Dan swasta juga mulai mengandalkan penerbitan surat utang di pasar modal, obligasi, dan lain-lain. Jadi tidak hanya menarik dari ULN," ujar dia.

Data BI menyebutkan, hingga akhir kuartal IV-2016, ULN debitur swasta turun 5,6% (yoy) menjadi US$158,7 miliar. Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan pada triwulan III/2016, ketika ULN swasta sudah turun 2% (yoy).

Sedangkan di triwulan II-2016, ULN sektor swasta turun 3,1% (yoy), sementara triwulan pertama turun 0,5% (yoy). [ipe]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x