Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 17 Desember 2017 | 03:42 WIB

Menkeu Ani Banggakan Utang RI Masih Rendah

Oleh : M fadil djailani | Selasa, 21 Februari 2017 | 02:39 WIB
Menkeu Ani Banggakan Utang RI Masih Rendah
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2016, jumlah utang luar negeri pemerintah mencapai Rp 3.466,96 triliun. Cukup besar? Ternyata tidak, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dalam sebuah seminar di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/2/2017), Menkeu Mulyani bilang, utang Indonesia yang jumlahnya mendekati Rp 3.500 triliun, masih aman. Alasannya, rasio utang relatif rendah ketimbang negara-negara di dunia.

Meski aman, mantan Direktur Pelaksana World Bank ini mengakui, terjadi kenaikan yang signifikan atas utang luar negeri tiap tahun. "Memang ada kenaikan (utang), karena defisit yang di atas 2 persen. Tapi, kalau lihat size ekonomi yang terus maju, masih seimbang," kata Menkeu Mulyani.

Menkeu Ani, sapaan perempuan kelahiran Lampung yang masih rupawan ini, menerangkan, defisit anggaran 2,41%, pertumbuhan ekonomi 5,1%, dengan rasio utang 28%, tergolong rendah sehingga aman-lah.

Yang dimaksud aman karena UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, membatasi rasio utang harus di bawah 60%. Sedangkan posisi utang hingga Desember mencapai Rp 3.466,96 triliun, atau naik Rp 301,83 triliun ketimbang Desember 2015.

Selanjutnya, Mulyani menyebut sejumlah negara yang memiliki rasio utang lebih mengerikan. Misalnya, Filipina dan Australia, rasio utang terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) sebesar 36%. Sedangkan Malaysia 56%, Thailand 44%.

Demikian pula negeri berekonomi maju seperti AS dan Jepang, rasio utangnya di atas 100%.
"Jepang rasio utang 245-250 persen, posisi penduduk Jepang yang mayoritas tua tapi punya utang. Kalau Indonesia, masih produktif, masih bisa bekerja. Jepang pertumbuhan ekonomi 1-2 persen, jadi enggak mungkin mengurangi utangnya dengan growth. Ini yang paling pelik kalau lihat kasus utang di dunia," katanya.

Mulyani menambahkan, besarnya rasio utang terhadap PDB tidak dapat dijadikan sebagai indikator bahwa suatu negara akan mengalami kebangkrutan. "AS, Jerman, seluruhnya punya eksposure utang yang relatif tinggi, tapi mereka negara maju," katanya.

Selama digunakan untuk belanja produktif, lanjutnya, utang luar negeri tidak masalah. Karena akan memberikan hasil yang positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. [ipe]


Komentar

 
x