Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 29 April 2017 | 22:30 WIB

Survei Properti: Rumah Kian tak Terbeli

Oleh : - | Jumat, 24 Februari 2017 | 15:36 WIB
Survei Properti: Rumah Kian tak Terbeli
(Foto: inilahcom/ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sebanyak 45% masyarakat Indonesia mengaku tak siap membeli properti, karena tingginya harga. Alasan lain, punya satu rumah itu cukup.

"Harga memang menjadi salah satu pertimbangan penting bagi konsumen dalam membeli hunian. Meski demikian, proyek-proyek perumahan saat ini juga memiliki daya tarik luar biasa karena pemerintah memberi dukungan lewat proyek infrastruktur yang sedang dibangun atau siap beroperasi tahun ini," kata Country Manager Rumah.com Wasudewan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Alasan tersebut, kata Wasudewan, merupakan hasil survei "Rumah.com Property Affordability Sentiment Index" yang dilakukan Rumah.com, beberapa waktu lalu. Di mana, responden survei diberi pertanyaan: mengapa tidak membeli properti/rumah?

Dalam survei ini, Rumah.com bekerja sama dengan lembaga riset Institut Research, Singapura. Survei dilakukan terhadap 1.030 responden, dilakukan pada November-Desember 2016.

Salah satu proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah dan ikut mempengaruhi harga properti adalah tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang selama lebih dari 20 tahun mangkrak dan kini dilanjutkan kembali, serta tol Semarang-Salatiga.

"Saat proyek infrastruktur ini nanti mulai beroperasi, harga properti pun akan ikut bergerak naik. Inilah yang harus dipahami oleh para pencari properti sehingga dapat menilai harga hunian dalam jangka panjang pula," katanya.

Survei ini juga menemukan, sebanyak 46% masyarakat Indonesia merasa pemerintah telah melakukan usaha yang cukup baik untuk membantu para pencari properti mewujudkan hunian idaman.

Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang mencapai 36%. Hasil ini merupakan respon positif masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah dalam membantu mewujudkan hunian idaman masyarakat.

Pemerintah, katanya, memang telah mengeluarkan beragam kebijakan untuk membantu masyarakat memiliki rumah. Dimulai dari penurunan batasan uang muka kredit perumahan atau Loan To Value (LTV), penyederhanaan regulasi bagi pengembang, program sejuta rumah hingga amnesti pajak.

"Sehingga pengusaha menilai bahwa masyarakat memiliki harapan tinggi terhadap dampak amnesti pajak terhadap industri properti yang lebih bergairah dan harga yang lebih terjangkau," tambahnya.

Survei Harga Properti Residensial di Pasar Primer dari Bank Indonesia selama Triwulan IV/2016 yang dirilis bulan Februari 2017 ini juga mengungkapkan bahwa sejumlah faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis properti adalah suku bunga KPR (19,91%), uang muka rumah (18,39%), perijinan (16,15%), pajak (13,76%) serta kenaikan harga bangunan (13,54%).

Hasil survei ini juga mengindikasikan bahwa sebagian besar konsumen properti (77,22%) masih memilih Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial. Jumlah ini meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (Triwulan III/2016) yaitu sebesar 74,77%. [tar]

x