Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 25 Juni 2017 | 03:32 WIB

Ramai-ramai Menggarap Properti

Oleh : Latihono Sujantyo | Minggu, 26 Februari 2017 | 10:27 WIB
Ramai-ramai Menggarap Properti
Pembangunan Perumahan - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta -- Pasar properti diprediksi kembali tumbuh subur. Ada sejumlah faktor yang mendukung bisnis bakal kinclong.

Ini kabar baik bagi para pengembang di Tanah Air. Berdasarkan sejumlah faktor, bisnis properti di Tahun Ayam ini bakal cemerlang dan memberikan keuntungan menarik.

Sejumlah faktor pendukung bisnis properti bakal kinclong adalah inflasi yang terkendali, nilai tukar rupiah yang tidak terlalu gonjang-ganjing, turunnya suku bunga KPR, pembangunan proyek infrastruktur yang terus digenjot, kelas menengah yang terus tumbuh, aturan loan to value (LTV) atas KPR semakin rendah sehingga uang muka atau down payment (DP) menjadi lebih murah.

Yang tak kalah dari berbagai faktor pendukung itu adalah progam pengampunan pajak (tax amnesty). Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bahwa dana repatriasi yang masuk ke Indonesia hasil program tax amnesty akan dialihkan ke sektor riil, termasuk properti.

Dana repatriasi dari peserta tax amnesty ditempatkan di bank persepsi. Dana ini kemudian bisa dialihkan untuk membeli rumah atau properti lainnya. Properti ini bisa dijual kembali setelah tiga tahun, dengan syarat dana hasil penjualannya dimasukkan kembali ke bank persepsi. Ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 122 tahun 2016.

Vivin Harsanto, Head of Advisory Jones Lang LaSalle (lembaga riset properti) beberapa waktu lalu menjelaskan, sektor properti yang jadi incaran para investor adalah residensial, ritel, perkantoran, dan logistik industrial. "Investor asing yang cukup aktif mengindikasikan bahwa pasar properti Indonesia memiliki daya tarik sendiri," katanya.

Tak mengherankan jika berbagai pelaku usaha kini berlomba menggarap kembali sektor properti yang dua tahun terakhir lesu darah. Apalagi, menurut Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN), Maryono, ruang pertumbuhan sektor perumahan masih sangat luas.

Sampai September 2016, sektor properti baru menyumbang antara 2,5-2,8 persen Produk Domestik Bruto (PDB). "Dengan kontribusi sebesar itu, artinya masih banyak ruang bisnis yang bisa dikembangkan," kata Maryono.

Kendati kontribusinya masih kecil, PDB sektor propertiyang menjadi salah satu indikator kondisi bisnis ini terus menanjak dari tahun ke tahun. Setiap kuartal di 2016, PDB sektor properti berkisar antara Rp 86 triliun - Rp 88 triliun.

Total jenderal, selama sembilan bulan PDB sektor properti sudah mencapai Rp 261,3 triliun. Angka ini sudah melampaui perolehan yang sama di 2015 sebesar Rp 245,4 triliun dan jauh melebihi pencapaian 2014 yang hanya Rp 216,9 triliun.

Bisnis properti memang menjanjikan. Dia terus tumbuh. Seperti orang butuh makan, properti selalu dicari orang karena dia salah satu kebutuhan dasar hidup manusia.

Selama perekonomian tumbuh positif dan bonus demografi melaju, kebutuhan properti akan terus naik. Ini karena properti, terutama rumah, merupakan kebutuhan pokok. Sementara properti komersial, seperti perkantoran dan hotel serta resor merupakan kebutuhan bisnis dan pariwisata.

Bisnis properti juga merupakan investasi dengan risiko paling minim, baik dari segirisiko bisnis (business risk), risiko suku bunga (interest risk), risiko inflasi (inflation risk), risiko likuiditas (liquidity risk), dan risiko pasar (market risk).

Hebatnya lagi, harga properti tak akan pernah turun. Paling-paling terkoreksi, itu pun sangat tergantung pada lokasi, kondisi ekonomi, dansupply and demand. Artinya, bisnis properti memang investasi nomor wahid.

Maka, jangan heran, kalau orang-orang tajir Indonesia maupun di dunia, kaya karena main properti. Sebut saja Bill Gates. Pendiri Microsoft yang baru saja dinobatkan kembali sebagai orang terkaya dunia ini, tak cuma lekat dengan perangkat teknologi informasi, melainkan juga ikut bermain properti.

Sekali lagi, bisnis properti memang oke banget. [lat]

 
x