Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 27 Maret 2017 | 11:43 WIB
Hide Ads

Kartel Sapi Buat Menkeu Ani Geram

Oleh : Uji Sukma Mediantila | Kamis, 2 Maret 2017 | 20:25 WIB
Kartel Sapi Buat Menkeu Ani Geram
Menkeu Sri Mulyani - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Gara-gara kartel daging sapi, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati kesal. Pasalnya, volume daging yang diimpor tak sejalan dengan harga yang semestinya bergerak turun.

Dari data perpajakan yang dimiliki oleh Menkeu, tahun 2015, jumlah impor daging sapi beku dilakukan oleh 56 importir dengan jumlah 44.673,9 ton daging. Sedangkan pada tahun 2016, jumlah impor daging naik luar biasa tinggi menjadi. 155.070,2 ton.

"Naiknya itu lebih dari tiga kali lipat. Atau dalam hal ini 247 persen," ujarnya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (2/3/2017).

Sementara itu, untuk daging sapi segar, pada tahun 2015 impornya mencapai 954 ton. Pada 2016, impor daging sapi besar menjadi 10.340 ton. Atau naik nyaris 10 kali lipat setara 983 persen.

Menkeu juga menyinggung soal impor jeroan. Pada tahun 2015, katanya, tidak ada impor, tapi tahun 2016 menjadi 9,5 ton.

"Jumlah penduduk Indonesia nggak naik. Jadi, kalau suplai naik sampai tiga kali lipat, mestinya harga turun. Iya kan?" katanya.

Namun yang terjadi adalah dengan jumlah sebanyak itu harga tidak lekas turun. "Tadi saya sudah minta kepada Bea Cukai. Coba kita cek harga di Malaysia dan Singapura. Toh mereka juga impor sapi," tambahnya.

Menkeu menemukan, ternyata harga daging sapi di Indonesia masih lebih mahal 30-40 persen dibandingkan Malaysia dan Singapura.

"Harga daging sapi di dalam negeri kita dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia itu bisa 30-40 persen lebih mahal dikalikan volume yang sekarang ini ada," ungkapnya.

Dia mengungkapkan adalah hal yang wajar bila Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan adanya kartel terhadap 32 perusahaan feedloter.

"Pasti, jumlah penduduk yang tak naik tiba-tiba pasokan naik dua kali lipat. Kalaupun kita Lebaran makannya tetap tiga kali sehari. Namun harganya dengan volume yang begitu besar tidak turun," ucapnya.

Impor Daging Tak Turunkan Harga

Menurut Menkeu , kebijakan dari Kementerian Perdagangan yang membuka impor daging sapi tak ampuh turunkan harga.

"Dulu kan orang bilang volume sedikit karena tidak ada (stok), atau halangan impor," tuturnya.

Bahkan, selain impor yang sudah terbuka lebar Kementerian Pertanian juga telah berupaya meningkatkan stok sapi dalam negeri baik sapi indukan maupun bakalan.

"Jadi seluruh komponen negara telah berusaha keras untuk menciptakan jumlah pasokan di masyarakat kita namun harga tidak turun," ujarnya.

Dari sinilah tentunya muncul pertanyaan, siapakah yang meraup keuntungan terbesar dari situasi ini?

Menkeu pun ingin para importir melaporkan kewajiban pajaknya dengan baik dan benar. Maka dari itu Menkeu Ani bakal mengerahkan pasukannya untuk mengejar para pelaku kartel yang tidak membayarkan kewajiban pajaknya.

"Dirjen Bea Cukai akan gunakan seluruh informasi yang ada mengenai siapa pelaku impor, apakah mereka sudah membayar bea impor sesuai dengan yang ditetapkan melalui peraturan Mendag, yang baisanya ditetapkan juga oleh ketetapan Menkeu," jelasnya.

Katanya, dari sana akan terlihat apakah volume yang dilaporkan dalam dokumen impor sama nilainya dengan volume yang dilaporkan dalam dokumen pajaknya. [lat]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x