Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 17 Agustus 2017 | 16:48 WIB

Ini Beban Bagi RI Bila Fed Fund Rate Naik

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 7 Maret 2017 | 14:17 WIB
Ini Beban Bagi RI Bila Fed Fund Rate Naik
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Rencana kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Serve atau Fed Fund Rate (FFR) pada bulan Maret ini akan menambah ketidakpastian ekonomi bagi Indonesia atau bisa dibilang ekonomi nasional akan menghadapi 'lampu kuning',

Sebab, kenaikan itu akan mengganjal pertumbuhan kredit perbankan nasional sehingga bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kenaikan FFR yang diiringi dengan menguatnya dollar AS tersebut juga membuat biaya utang pemerintah membengkak akibat meningkatnya bunga surat utang, dan tambahan beban depresiasi rupiah pada utang dalam mata uang AS.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhstira Adhinegara mengatakan hal tersebut saat berbincang dengan INILAHCOM, Selasa (07/03/2017).

"Yang pertama akan jadi korban dari naiknya suku bunga The Fed adalah pertumbuhan kredit perbankan karena BI (Bank Indonesia) memilih hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah," kata Bhima.

Yah, statment Bhima ini merespons Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo yang bilang, bahwa BI akan selalu dipasar dan melakukan intervensi jika rupiah mengalami pelemahan yang cukup parah akibat naiknya FFR.

Dia juga bilang, bahwa cadangan devisa pada November lalu terkuras cukup dalam yakni lebih dari 3,5 miliar dollar AS terutama untuk stabilisasi kurs rupiah di pasar. Sepanjang November 2016, rupiah melemah 3,9 persen terhadap dollar AS.

Bhima menambahkan jika pada tahun ini The Fed secara bertahap terus menaikkan suku bunga sulit membayangkan kekuatan BI untuk terus menjaga rupiah.

"Dengan BI mempertahankan 7-day RR Rate menjadi sinyal bahwa BI mendukung stabilitas nilai tukar ketimbang memacu pertumbuhan ekonomi. Tapi harus diingat ini akan jadi akhir dari jor-joan penurunan suku bunga BI. Potensinya justru akan naik terus di tahun depan mengimbangi The Fed," tandasnya.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai sinyalemen naiknya suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Fed Fund Rate (FFR) pada bulan Maret 2017, tak perlu ditakutkan oleh para pelaku pasar ditanah air, lantaran kondisi ekonomi makro Indonesia cukup baik.

"Kita meyakini dampak dari kenaikan FFR tidak akan begitu pemengaruhi Indonesia, karena kondisi stabilitas ekonomi makro Indonesia cukup baik," kata Agus di Kementerian Keuangan Senin (06/03/2017).

Agus bilang sinyal naiknya FFR pada bulan Maret 2017, diketahui usai pidato Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Janet Yellen pada bulan lalu dan juga hasil dari Federal Open Market Committee (FOMC) yang semakin bulat di Maret ini, sampai dengan 90 persen.

"Tapi tetap kita harus mewaspadainya," kata Agus.

Mantan Menteri Keuangan era SBY ini bilang para pelaku pasar sudah mengetahui rencana kenaikan suku bunga Negeri Paman Sam tersebut, dan telah mempersiapkan untuk mengantisipasinya.

"Pasar sudah price in FFR akan naik di Maret karena komunikasi yang cukup baik dan kajian dari pasar yang cukup luas terkait itu," katanya.

Sebelumnya suku bunga AS telah naik 0,25 persen pada Desember 2016 lalu, dan itu kenaikan suku bunga kedua kali dalam 10 tahun. Saat ini suku bunga the Fed di kisaran 0,5 persen-0,75 persen. [hid]

 
x