Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Oktober 2017 | 16:57 WIB

FFR Naik, Utang RI Diprediksi Membengkak

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 8 Maret 2017 | 00:33 WIB
FFR Naik, Utang RI Diprediksi Membengkak
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah dingatkan bahwa kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) Fed Fund Rate (FFR) pada Maret ini, akan meningkatkan biaya utang luar negeri, khususnya bunga pinjaman dalam dolar AS, dalam tahun tahun mendatang.

Hal tersebut dikatakan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara saat berbincang dengan INILAHCOM, Selasa (07/03/2017).

Bhima bilang naiknya suku bunga AS ini akan menyebabkan mata uang dolar akan meningkat dan melemahkan mata uang rupiah. Alhasil beban bunga surat utang pemerintah Indonesia akan jadi lebih mahal.

"Ini akan menambah utang kita, apalagi di 2018 adalah puncak buyback atau pembayaran utang SBN (Surat Berharga Negara)," kata Bhima.

Dia juga bilang hampir 38,8 persen surat utang RI dikuasi asing, tentu hal itu tak baik, sehingga membuat pasar keuangan dalam negeri sangat fragile (gamang). "Bakal banyak dana asing yang kabur," katanya.

Dengan kondisi tersebut tentunya yang paling berdampak adalah pengusaha atau korporasi yang meminjam dalam bentuk dolar AS.

"Masyarakat atau korporasi yang meminjam dalam bentuk dollar AS harus siap dengan kondisi yang lebih mahal isitilahnya cost of fund," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan tak ada yang perlu ditakutkan dari rencana naiknya suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Fed Fund Rate (FFR) pada bulan Maret ini.

Menurutnya kondisi fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menghadapi naiknya suku bunga negeri Paman Sam tersebut.

"Fundamental"kita relatif baik, artinya pertumbuhannya (ekonomi) oke, perdagangan internasionalnya, neraca pembayarannya oke, itu juga sebabnya kurs kita tidak melemah terus, malah melemah tapi kemudian ada naiknya," kata Darmin di Kementerian Keuangan, Jakarta.

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini pun meyakini kenaikan FFR juga tidak akan terlalu berdampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar.

"Buktinya coba lihat dolar, tidak terus menguat selama ini. Dia menguat lalu melemah lagi, Rupiah kita di Rp13.345-Rp13.350. Jadi, jangan dianggap ini akan ada perubahan besar," katanya.

Darmin juga menyatakan bahwa perekonomian Indonesia sudah mengantisipasi semua kemungkinan yang akan terjadi. Pemerintah bahkan telah memperkirakan dampak yang muncul dari sentimen kenaikan FFR.

Dengan segala kesiapan tersebut, Darmin meyakini, kenaikan The Fed tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kondisi ekonomi di dalam negeri.

Asal tahu saja suku bunga AS telah naik 0,25 persen pada Desember 2016 lalu, dan itu kenaikan suku bunga kedua kali dalam 10 tahun. Saat ini suku bunga the Fed di kisaran 0,5 persen-0,75 persen. [lat]

Komentar

 
x