Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 27 Maret 2017 | 11:48 WIB
Hide Ads

Penunjukan Luhut, Presiden Kecewa Tim Ekonomi?

Oleh : Iwan purwantono | Rabu, 8 Maret 2017 | 04:29 WIB
Penunjukan Luhut, Presiden Kecewa Tim Ekonomi?
Presiden Joko Widodo - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Presiden Joko Widodo menunjuk Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan sebagai ketua pertemuan IMF dan World Bank (WB), tentu bukan kebetulan. Keputusan tak lazim ini, tentu ada alasan nan kuat.

Dalam rilis yang diterima INILAHCOM di Jakarta, Selasa (7/3/2017), Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS) mengamini pandangan di atas.

Kata dia, penunjukan Menko Luhut sebagai ketua Tim Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali, Oktober tahun depan, memang kejutan yang luar biasa dahsyatnya.

Bagaimana tidak, Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia ini, merupakan perhelatan besar yang sangat ditunggu oleh seluruh dunia. Dihadiri sedikitnya 1.500 peserta. Terdiri dari para menteri keuangan, gubernur bank sentral, ekonom, pengusaha top, dan aktivis dari berbagai negara.

"Biasanya (dan seharusnya), acara seperti ini dipimpin langsung oleh menteri koordinator bidang ekonomi, atau menteri keuangan," papar Edy.

Selanjutnya Edy menyebutkan sederet kalimat kunci, begini: Bukankah seharusnya ketua Tim Indonesia untuk sidang tahunan bergengsi itu dipimpin menko perekonomian atau menteri keuangan? Bukankah kita punya Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan yang selama ini dianggap sebagai ekonom mumpuni?

Tapi, mengapa Jokowi menyerahkan kepemimpinan sidang tahunan IMF-Bank Dunia itu kepada Menko Luhut? Siapa pun paham benar, bahwa sidang ini adalah domain menteri ekonomi. Selain itu, Menko Luhut kurang memahami ekonomi makro.

"Buat mereka yang melek kondisi Indonesia, keputusan Jokowi tentu bukan hal biasa. Tapi tidak terlalu sulit memahami peristiwa ini. Telusuri saja pernyataan-pernyataan presiden sebelum ini, terkait perekonomian kita," papar Edy.

Kesimpulannya? Tegas Edy bilang, Presiden Jokowi kecewa. Bisa jadi, baik Menko Perekonomian Darmin Nasution ataupun Menkeu Sri Mulyani, dianggap gagal melempangkan program-program presiden. Ekonomi yang telanjur dijanjikan meroket sejak September 2016, ternyata gatot alias gagal total.

Pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki kualitas konektivitas yang digadang-gadang, meleset. Tahun lalu, ekonomi kita hanya tumbuh 5,02%, lebih rendah dibandingkan 2013 sebesar 5,56%.

Bahkan, saking pas-pasannya kinerja mereka, target ekonomi yang dipatok tahun ini pun hanya 5,1%. Baru setelah dalam sidang kabinet presiden marah, buru-buru target didongkrak menjadi 5,7%.

Sejatinya, lanjut Edy, bisik-bisik di kalangan Istana sudah merebak sejak beberapa bulan silam. Bahwasanya, Jokowi kecewa berat dengan duet Darmin dan Sri.

Paket-paket ekonomi berseri yang diluncurkan Darmin, berhenti di atas kertas. Kalau pun akan sukses, perlu waktu lama. Bisa-bisa tujuh kali pemilu baru kejadian.

Dari beragam konten paket ekonomi yang diluncurkan, program revaluasi aset dinilai berhasil mengatrol aset BUMN hingga Rp800 triliun lebih. Pajak yang diterima negara dari program ini sekitar Rp32 triliun. "Tapi untuk soal ini, Rizal Ramli yang saat itu jadi Menko Maritim adalah sosok penggagasnya. Bukan Darmin," papar Edy.

Ibarat konsumen, Presiden selama ini menjadi korban iklan. Di media mainstream, keduanya khususnya Sri-- disanjung-sanjung sebagai ekonom jempolan. Itulah sebabnya, sebagai orang korban iklan, Jokowi berharap banyak kepada keduanya untuk membenahi sengkarut perekonomian negeri.

Tapi apa hendak dikata, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Maksud hati membuat ekonomi meroket, apa daya malah jadi kuntet. Mau terus begini? [ipe]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x