Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 17 Desember 2017 | 03:36 WIB

Bisnis Sawit Ramai Di-Bully karena Ini

Oleh : - | Senin, 13 Maret 2017 | 13:58 WIB
Bisnis Sawit Ramai Di-Bully karena Ini
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang mengingatkan pelaku perkebunan, baik perusahaan maupun petani. Saat ini, banyak upaya untuk mengkerdilkan bisnis ini.

Padahal, kata Bambang, sektor perkebunan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. "Hal ini terlihat dengan banyaknya pihak-pihak yang ingin menghambat, atau bahkan melakukan black campaign (kampanye hitam) kepada perkebunan," papar Bambang dalam sebuah diskusi di Jakarta, pekan lalu.

Sektor perkebunan yang disasar, kata Bambang, adalah kelapa sawit dan kakao. "Banyak pihak yang tidak mengerti soal kelapa sawit, tapi suaranya kencang mengkritik," tegasnya.

Kata mantan kepala dinas perkebunan dan horikulturan Sulawesi Tenggara (Sultra) ini, banyak pihak ingin mematikan industri perkebunan di Indonesia. Salah satu contoh yang sangat kasat mata adalah sektor kelapa sawit.

Saat ini, lanjutnya, banyak negara yang sedang mengembangkan energi terbarukan, untuk menggantikan energi yang berasal dari fosil. Lantaran, energi dari fosil jumlahnya makin sedikit lantaran terus dieksploitasi.

Ya, Bambang benar. Mengacu kepada data Oil World, dalam 1 Hektar (Ha) kebun kelapa sawit, bisa menghasilkan 3,6 ton minyak. Sementara 1 Ha kebun kedelai hanya menghasilkan 0,39 ton minyak nabati.
Artinya, efisiensi lahan ini untuk tanaman kelapa sawit lebih tinggi ketimbang tanaman kedelai. Ini dimungkinkan lantaran kelapa sawit adalah tanaman yang berbuah sepanjang tahun. Tidak seperti kedelai yang musiman.

"Atas dasar itulah negara-negara penghasil minyak nabati merasa ketakutan kepada Indonesia yang saat ini sebagai penghasil minyak nabati terbesar yang berasal dari kelapa sawit," jelas Bambang.

Selain itu, papar Bambang, kelapa sawit lebih efisien ketimbang minyak nabati lainnya. Alhasil, berbagai pihak lantas menhujamkan berbagai tuduhan miring kepada kelapa sawit. Semisal menyebut tanaman kelapa sawit tidak sustainable (ramah lingkungan).

Padahal, lanjutnya, jika dicermati dari perspektif budidaya, usia tanaman kelapa sawit (siklus) mencapai 25 tahun. Bandingkan dengan tanaman kedelai yang siklusnya hanya 4 bulan.

Artinya, tanaman kelapa sawit dalam 25 tahun baru perlu dilakukan peremajaan. Sedangkan tanaman kedelai, 4 bulan sekali harus dibongkar dan diganti tanaman baru. Dengan kata lain, tiga kali peremajaan dalam setahun. "Melihat hal ini maka harus ada pembuktian bahwa kelapa sawit telah menerapkan pola sustainable melalui sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO)," tegas Bambang.

Untuk membantah tudingan kelapa sawit tak suistanable, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Togar Sitanggang mendukung pemberlakuan sertifikasi ISPO (Indonesia Suistanable Palm Oil).

Bila perlu, kata Togar, kewajiban sertifikasi ISPO tidak hanya menyasar produk crude palm oil (CPO) saja, namun diberlakukan untuk produk turunannya. Atau ada sertifikasi supplay change. "Sebab kita melakukan ekspor tidak hanya dalam bentuk CPO, tapi juga dalam bentuk turunan," jelas Togar.

Sehinga, menurut Togar, sertifikasi supplaychange merupakan penguatan terhadap ISPO. Penguatan ISPO perlu dilakukan agar negara luar bisa lebih mengakui ISPO secara penuh, tidak lagi setengah hati.

"Ini kita lakukan agar ISPO bisa lebih diakui, untuk itu kita harus serius dalam membahas penguatan ISPO. Selain itu, penguatan ISPO juga perlu dilakukan mengingat konsumen khususnya Uni Eropa di 2020 hanya menerima produk bersertifikasi sustainable," ungkap Togar. [tar]

Komentar

 
x