Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 24 Agustus 2017 | 13:41 WIB

Dosen Tamu Trisakti, Candra Bagi Power Bank&Selfie

Oleh : Uji sukma medianti | Sabtu, 18 Maret 2017 | 01:39 WIB
Dosen Tamu Trisakti, Candra Bagi Power Bank&Selfie
Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Saat memberi kuliah umum di Universitas Trisakti, Jakarta, Jumat (17/3/2017), Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar menantang mahasiswa menjawab pertanyaan seputar isu minyak dan gas bumi (migas).

"Setelah saya banyak ditanya di sini, sekarang giliran saya memberikan pertanyaan kepada peserta kuliah umum di sini, ada hadiah bagi yang bisa menjawab. Pertanyaan berkaitan dengan migas," kata Candra, sapaan akrab Arcandra Tahar.

Inilah pertanyaan pertama Wamen Candra: berapa base split (bagian) negara dan kontraktor untuk gas di skema gross split? Selanjutnya, puluhan mahasiswa mengacungkan tangan ingin menjawab.

Selanjutnya Candra menjanjikan hadiah menarik, plus selfie bersama di atas panggung. Kontan, mahasiswa berebutan. "Coba kamu berapa jawabannya?" kata Candra sambil menunjuk seorang mahasiswi. "30:70 pak," sahut sang mahasiswi.

Mendengar jawaban itu, wajah mantan menteri ESDM tersingkat di dunia ini, terlihat sedikit kecewa. "Salah," kata Archandra menanggapi.

Wamen Candra melanjutkan dengan pertanyaan kedua: blok manakah yang pertama kali menerapkan skema gross split? "Blok nya adalah ONWJ," jawab salah satu mahasiswa dengan lantang. "Nah ini benar," kata Arcandra diiringi keriuhan dari peserta kuliah umum.

Sesuai janji, pria asal Minang, Sumatera Barat ini menyerahkan hadiah berupa power bank serta foto bersama. Kemudian, Candra melontarkan pertanyaan ketiga: apa tujuan atau manfaat dari skema gross split?

Hampir separuh suangan mengacungkan tangan. Seolah mereka ingin berlomba mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dari bangku dosen ternyata ada juga yang mengacungkan tangan. Pertanda ingin unjuk kebolahan menjawab pertanyaan dari orang nomor dua di Kementerian ESDM ini.

Dalam kuliah umum ini, Arcandra mengupas tuntas lesunya bisnis hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. "Lesunya industri hulu migas di Indonesia di mulai pada periode tahun 2011 sampai pada 2013, padahal pada saat itu harga minyak mentah dunia sedang tinggi-tingginya," katanya.

Menurutnya, salah satu pembuat lesu industri hulu pada saat itu adalah adanya PP nomor 79 tahun 2010. "Selain pembubaran BP Migas menjadi SKK Migas, PP tersebut salah satu dampak terkuat menjadi malasnya investor ke Indonesia," imbuhnya. [ipe]

 
Embed Widget

x