Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Oktober 2017 | 16:58 WIB

Besar Produksi Migas Ketimbang Penemuan Sumur Baru

Oleh : - | Sabtu, 18 Maret 2017 | 10:10 WIB
Besar Produksi Migas Ketimbang Penemuan Sumur Baru
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar - (Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar miris lantaran kegiatan penemuan minyak di Indonesia masih rendah ketimbang proses produksinya.

"Indonesia banyak yang diproduksi daripada yang ditemukan, bahkan berdasarkan data yang ada, India malah lebih unggul," kata Arcandra saat memberikan kuliah tamu di Universitas Trisakti, Jakarta, Jumat (17/3/2017).

Wamen Candra, sapaan akrabnya menjelaskan, dari 68 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) yang beroperasi di Indonesia, hanya 20 besar yang menguasai total 90% produksi. Sisanya yang 48 K3S hanya menghasilkan 10 persen produksi saja. "Jadi kalau kita lihat dari 20 kontraktor hanya sebesar 90 persen yang mampu memproduksi minyak," ucapnya.

Dari 90% yang dihasilkan itu, kata Candra, harga per barelnya mencapai US$19,27. Sementara dari 48 K3S gurem tersebut, menghasilkan 10% minyak dengan harga per barel-nya US$23.

Dirinya menjelaskan, ada masa di mana kegiatan eksplorasi di Indonesia menurun. Yakni pada periode 2010-2013. "Pada periode tahun itu ada peristiwa yang menyebabkan kegiatan eksplorasi menurun tajam, sangat berdampak namun tidak berupa pengaruh langsung," tuturnya.

Salah satunya adalah digantinya BP Migas menjadi SKK Migas, dan terkait dengan PP Nomor 79 tahun 2010. Dalam PP tersebut menurutnya banyak hal yang menghambat proses investasi, oleh karena itu perlunya direvisi.

"Dalam PP tersebut belum apa-apa calon investor sudah dipajakin, nanti kalau berhasil menemukan dipajakin lagi, dan kalau gagal itu juga masih terkena, faktor ini yang membuat investor enggan," ujarnya.

Menurutnya, belum lagi faktor administrasi yang masih lambat, sehingga perlu waktu hingga 15 tahun untuk menemukan minyak, padahal di negara maju dari proses pencarian pertama sampai menemukan minyak, itu tidak sampai lima tahun. Sedangkan di Indonesia perlu 15 tahun.

"Bayangkan investor tertarik pada tahun ini, maka 15 tahun lagi baru ketemu hasilnya, dan di negara lain berarti sudah menemukan 3 ladang yang baru lebih cepat," imbuhnya. [tar]

Komentar

 
x