Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 29 Maret 2017 | 06:31 WIB
Hide Ads

Freeport Bermasalah, Smelting Gresik Beroperasi

Oleh : - | Sabtu, 18 Maret 2017 | 14:14 WIB
Freeport Bermasalah, Smelting Gresik Beroperasi
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Gresik - Perusahaan pengolah dan pemurnian konsentrat PT Freeport Indonesia yakni PT Smelting di Kabupaten Gresik, Jawa Timur kembali beroperasi. Setelah sempat libur sebulan lebih.

"Saya mohon maaf, karena smelter pengolah tembaga PT Freeport ini, sempat berhenti operasi, selama satu bulan lebih. Peristiwa itu sangat tidak kami harapkan. Kami tahu, terhentinya produksi ini memengaruhi kinerja ekonomi, dan neraca perdagangan Jawa Timur," kata Presiden Direktur PT Smelting, Hiroshi Kondo dalam rilis kepada media di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/3/2017).

Hirosi berterima kasih kepada Pemkab Gresik dan Pemprov Jawa Timur yang sangat membantu kelancaran operasional PT Smelting. Selama ini, PT Smelting berkontribusi terhadap neraca perdagangan Jatim, karena 60% dari total produksi berupa katoda tembaga diekspor ke luar.

Sementara yang 40%, lanjut Hiroshi, diserap industri dalam negeri. Selain itu, PT Smelting memasok 100% kebutuhan asam sulfat (acid) untuk perusahaan pupuk di Gresik.

"Perusahaan kami telah mengolah bahan baku alam yang diambil dari bumi Indonesia. Ini artinya, keberadaan pabrik ini telah memberi nilai lebih bagi sumber daya alam yang begitu kaya di negeri ini," ujar Hiroshi.

Ia mengaku operasioal kembali PT Smelting sebenarnya dimulai sejak 1 Maret 2017, dan diharapkan kembali mampu berkontribusi terhadap perekonomian Jatim maupun Indonesia.

"Sebagai perusahaan yang telah beroperasi di sini selama 20 tahun, tentu kami berkomitmen dan berpegang teguh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di negeri ini," katanya.

Sementara, Plan Manager PT Smelting, Antonius Prayoga menjelaskan, smelter yang beroperasi sejak 1998 ini, mempunyai kapasitas 300 ribu ton katoda tembaga per tahun. Dari jumlah produksi tersebut, 40% terserap pasar dalam negeri, sedangkan 60% diekspor.

Selama ini, kata Antonius, salah satu produk Smelting Gresik berupa asam sulfat (Acid) langsung disalurkan ke Petrokimia Gresik sebagai bahan baku pupuk, dengan total pasokan 700 sampai 900 ribu ton acid ke Petrokimia Gresik, yang disalurkan melalui pipa sepanjang 4 kilometer di Gresik.

Sedangkan produk lain PT Smelting berupa coper slag atau semacam limbah padat smelter juga diserap pabrik semen yang ada di Jatim, dan digunakan sebagai pengganti pasir besi.

"Jadi, tidak ada limbah smelter yang tersisa, sebab semuanya berguna untuk industri lainnya," katanya.

Sementara itu, PT Smelting Gresik mayoritas sahamnya dimiliki Mistsubishi Jepang, dengan produk yang banyak digunakan di seluruh dunia.

Sebelumnya, perusahaan tersebut mengalami masalah kontrak kerja dengan para karyawannya, sehingga menghambat kinerja dan manajemen memutuskan menutup operasional pabrik untuk sementara yang berakibat terhentinya produksi.

Manajemen perusahaan juga tidak mau menjelaskan secara rinci masalah kontrak kerja yang terjadi, serta berapa kerugian akibat berhentinya produksi.

Namun, manajemen berharap agar masalah itu tidak terjadi lagi ke depannya, karena akan mempengaruhi kinerja ekonomi dan neraca perdagangan Jawa Timur. [tar]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget

x