Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 17 Agustus 2017 | 16:42 WIB

Potensi Besar Bisnis Adenium,Ikuti Jejak Thailand

Oleh : Iwan purwantono | Minggu, 19 Maret 2017 | 04:39 WIB
Potensi Besar Bisnis Adenium,Ikuti Jejak Thailand
(Foto: Inilahcom/Didik Setiawan)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Siapa bilang bisnis tanaman hias tak bisa untuk menopang hidup? Itulah yang mengemuka dalam temu nasional petani, pedagang dan penghobi adenium di Lapangan Banteng, Jakarta.

Seperti disampaikan Wakil Ketua Penyelenggara Kopi Darat (Kopdar) Nasional, mas Prasi dalam perbincangan dengan INILAHCOM di Jakarta, Sabtu (18/3).

"Di sini, para petani, pedagang dan hobiis adenium berkumpul. Kita ingin membumikan adenium melalui berbagai kegiatan. Ada edukasi mulai cara merawat, membentuk hingga budidaya. Kami juga bagikan 3 ribu bonggol gratis, ada pula lelang," papar Prasi.

Dalam Kopdar 2017 ini, Prasi bilang, petani, pedagang dan penghobi adenium, atau mawar gurun (desert rose) dari berbagai kota berkumpul di Lapangan Banteng. Mulai dari Jakarta, Tanjung Pinang, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara hingga Tangerang (Banten).

"Kita juga bicara dari perspektif ekonomi bisnis. Bagaimana membuat adenium di Indonesia bisa seperti Thailand. Bahwa adenium adalah tanaman hias yang punya banyak kelebihan," ungkapnya.

Apakah harganya mahal? Menurut Prasi, bergantung. Nilai jual adenium ditentukan banyak faktor. Mulai dari jenis, bentuk akar serta bonggol. Bisa pula ditentukan bunganya nan elok. "Yang murah cuman Rp 25 ribu ada. Tapi yang mahal hingga Rp 125 juta, juga ada," ungkap Prasi.

Masih menurut konsultan asal Rawamangun ini, bisnis adenium sebagai tanaman hias, sangatlah spesifik. Jadi, perlu strategi khusus untuk mendongkrak pasar.

"Produk adenium jelas beda dengan produkn konsumsi. Di mana kita dituntut bisa menciptakan pasar. Melalui forum inilah kita ingin memulainya," terang Prasi.

Selanjutnya Prasi menyebut adenium berhasil menghidupi warga di empat kecamatan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sayangnya, dukungan pemerintah belum oke. Ketika pasar dalam negeri sepi, petani adenium berupaya menjangkau pasar ekspor.

"Nah, saat mau ekspor, hambatannya itu macam-macam. Kalau petani kan maunya sederhana dan cepat. Kalau rumit-rumit, mesti ini dan itu, ya enggak bakalan maju," paparnya.

Kondisi di Indonesia, lanjut Prasi, seratus delapan puluh derajat dibanding Thailand. Di mana, pihak Kerajaan Thailand sangat mengagungkan adenium. Wajar apabila petani adenium di negeri Gajah Putih bisa maju pesat.

"Teman-teman yang suka impor dari Thailand banyak cerita kalau di sana pemerintahnya sangat mendukung sekali adenium sebagai industri. Indonesia kapan ya. Padahal, sektor ini kan masuknya ekonomi kreatif," ungkapnya.

Satu hal lagi, Prasi bilang, pemerintah Thailand tidak setengah hati dalam mendukung majunya bisnis adenium. Sampai-sampai, adenium yang akan diekspor mendapat pengawalan dari aparat kepolisian setempat. [ipe]

 
x