Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 29 Maret 2017 | 06:24 WIB
Hide Ads

Dana Repatriasi Lambat Masuk Pasar Modal

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 20 Maret 2017 | 20:12 WIB
Dana Repatriasi Lambat Masuk Pasar Modal
Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta -- Dana repatriasi atau dana 'pulang kampung' dari program amnesti pajak atau tax amnesty ternyata masih lambat untuk masuk ke instrumen investasi seperti pasar modal. Padahal, 10 hari lagi program amnesti pajak akan berakhir.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengungkapkan, saat ini memang hampir sebagian besar dana repatriasi masih ada di perbankan.

"Selama ini ada di perbankan," ujar Nurhaida di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Senin (20/03/2017).

Meski terbilang lambat, namun kata Nurhaida, dana repatriasi tersebut sudah mulai masuk ke pasar modal dengan berbagai macam instrumen investasi, seperti saham, reksadana hingga Surat Berharga Negara (SBN)."Saya rasa sudah mulai bergerak ke pasar modal. Apakah SBN, saham, reksa dana. Itu naik permintaan dari dana repatriasi," katanya.

Nurhaida bilang dana repatriasi ini penting lantaran, pemerintah saat ini sedang membutuhkan banyak uang untuk melakukan pembangunan infrastruktur. Tak hanya dari sektor pasar modal saja, tapi juga dari sektor lain.

"Bukan hanya dari pasar modal, tapi bisa dari perbankan, perusahaan pembiayaan, atau pasar modal. Tapi tiga sektor itu, harus berjuang bersama. Karena nilai financing yang dibutuhkan, perbankan juga ada keterbatasannya. Perusahaan pembiayaan juga," tandasnya.

Asal tahu saja, bedasarkan data dashboard amnesti pajak, hingga hari ini dana repatriasi yang masuk baru sekitar Rp 145 triliun dari target yang diharapkan pemerintah sebesar Rp 1.000 triliun. [lat]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x