Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 07:23 WIB

Ini Cerita Menkeu Tentang Primadona Komoditas

Oleh : M Fadil Djailani | Jumat, 24 Maret 2017 | 21:09 WIB
Ini Cerita Menkeu Tentang Primadona Komoditas
Menkeu Sri Mulyani Indrawati - (Foto: inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)
facebook twitter

INILAHCOM, Bandung -- Ini cerita Sri Mulyani Indrawati tentang anjloknya harga komoditas di pasar global yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

"Indonesia is also comodity produce country, kita punya batu bara, oil, kita punya gas," katanya saat menyampaikan kuliah umum di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, Jumat (23/03/2017) seperti dikutip dari Facebook resmi Kementerian Keuangan.

Awalnya, kata Sri, banyak negara berkembang yang mengadalkan komoditas sebagai mesin utama untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomiannya. Namun, ketika ketika harga komoditas anjlok, negara-negara tersebut bergejolak, termasuk Indonesia.

"Ekonomi mana saja yang mengandalkan komoditas pasti akan terpengaruh. Rusia langsung resesi negative gross, Brazil langsung resesi negative gross, South Africa resesi negative gross, India, Angola. Saya kenal betul menteri-menteri keuangan negara tersebut. Ketika harga minyak US$ 100 per barel, ke mana-mana naik first class. Tapi saat harga minyak US$ 30 per barel, tiba-tiba menjadi humble," ceritanya.

Situasi saat ini, sambungnya, mirip dengan situasi yang dihadapi Indonesia pada pertengahan 1980-an ketika harga minyak bumi terperosok sampai di bawah US$ 30 per barel, padahal ketika itu minyak bumi adalah sumber pendapatan utama Indonesia.

Namun, sekarang ini tanda-tanda pemulihan ekonomi dunia mulai terasa. Hal ini dibuktikan dengan mulai membaiknya harga komoditas di pasar global.

Sri berharap agar semua pengalaman diperhatikan baik-baik agar gejolak tidak kembali terjadi, khususnya di sektor ekonomi. "Mulai membaiknya harga komoditas harus dipertahankan sehingga menjadi momentum bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia agar menjadi lebih baik lagi," katanya. [lat]

Komentar

 
x