Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 September 2017 | 18:52 WIB

Inilah Cerita CT Soal Ketimpangan Ekonomi

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 4 April 2017 | 14:17 WIB
Inilah Cerita CT Soal Ketimpangan Ekonomi
Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era SBY, Chairul Tanjung - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era SBY, Chairul Tanjung berbagi cerita tentang kondisi ekonomi Indonesia saat ini, terutama masalah ketimpangan yang dihadapi masyarakat Indonesia.

CT panggilan akrab Chairul Tanjung mengatakan ketimpangan ekonomi harus benar-benar bisa diselesaikan secara sistematis sampai akar-akarnya.

"Tapi kita lihat, ternyata tidak ada korelasi antara pasar Tanah Abang dengan pasar bursa. Tanah Abang mengeluh marketnya turun, banyak yang merasa penjualannya tidak sebaik tahun sebelumnya. Sementara bursa mencetak rekor. Jadi kalau bicara ketimpangan ini salah satu ketimpangan nyata," kata CT dalam sebuah diskusi di Gedung Bursa Efek Jakarta, Selasa (4/4/2017).

Menurut dia, kondisi ini merupakan sebuah keniscayaan yang harus diterima masyarakat Indonesia, ketika orang kaya makim kaya dan orang miskin makin miskin.

"Terjadi akumulasi aset, kapital kepada penguasa kapital itu sendiri. Dan makin lama makin besar sehingga yang terbagi dengan jumlah yang besar makin lama makin besar. Ini sebuah keniscayaan," kata dia.

Tak sampai di situ CT juga menyinggung soal perkembangan teknologi saat ini. Perkembangan teknologi, katanya, dari sisi e-commerce, bisa jadi bomerang bagi masyarakat kecil. Alasannya dengan berkembangnya e-commerce pedagang kecil makin kehilangan pelanggannya. Ini karena pedagang kecil tidak menggunakan teknologi.

"Keniscayaan lain, kita bangga sekali sekarang dengan namanya e-commerce. Percayalah dengan saya, nanti kalau e-commerce sudah mengindonesia, pedagang kecil kita akan habis. Nah, itu akan mengakibatkan tambahnya ketimpangan dan akan mengedepankan unemployment. Krn mereka yg tadinya bekerja jaga warung tiba-tiba warung engga bisa bersiang," paparnya.

"Semua serba otomatis. Bayangkan nanti mobil engga punya supir. Bayangkan berapa supir yang kehilangan pekerjaan. Naik pesawat engga pake pilot. Berapa banyak yang kehilangan pekerjaan. Fungsi manusia akan diganti robot, otomation. Kalau kita tidak melakukan perubahan, maka kesenjangan akan makin lebar. Karena sebuah proses revolusi yang terjadi ini," jelasnya. [hid]

 
x