Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 19:43 WIB

OJK: Pidana Perbankan Banyak Terjadi di BPR

Oleh : - | Kamis, 6 April 2017 | 16:54 WIB
OJK: Pidana Perbankan Banyak Terjadi di BPR
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Batam - Otoritas Jasa Keuangan mencatat dugaan tindak pidana perbankan paling banyak terjadi di bank perkreditan rakyat bila dibandingkan bank swasta dan BPR Syariah sepanjang 2014-2016.

Direktur Investigasi Perbankan OJK Hendra Jaya Suleman di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (6/4/2017), menyatakan pada 2016 OJK mencatat sebanyak 21 kasus tindak pidana bank BPR yang dilimpahkan ke penyidik di seluruh Indonesia, relatif lebih banyak dibandingkan kasus di bank swasta yang hanya nol dan BPRS hanya empat kasus. "BPR yang paling banyak," kata dia.

Dugaan tindak pidana perbankan di BPR tercatat paling banyak terjadi pada 2014 yaitu sebanyak 50 kasus, kemudian di 2015 sempat turun hingga 15 kasus dan naik kembali pada 2016 sebanyak 21 kasus.

OJK juga mencatat pada 2016, penyimpangan yang terjadi di BPR dan BPRS, kebanyakan saat pendanaan yaitu sebanyak 13 kasus dengan nominal Rp48,483 miliar, disusul penyimpangan perkreditan sebanyak 12 kasus dengan nominal Rp46,969 miliar.

Sepanjang OJK berdiri, otoritas juga sudah menutup sejumlah BPR, dan 88 persen di antaranya karena alasan fraud. "Kesengajaan nyata, dalam upaya memperkaya diri sendiri, oleh komisaris, pengurus dan lainnya," kata dia.

Modus tindak pidana perbankan yang dilakukan antara lain tidak mencatatkan dana yang ditabung oleh nasabah dan permohonan kredit fiktif dengan menggunakan data nasalah lama yang sudah melunasi kredit dan data debitur yang permohonannya tidak disetujui.

Menurut dia, ada beberapa alasan mengapa tindak pidana perbankan lebih banyak terjadi di BPR, antara lain karena sulitnya mendapatkan sumber daya manusia yang baik, perangkat manajemen yang relatif sedikit dibanding bank umum dan kurangnya pengawasan dari otoritas.

"Sulit mencari orang-orang yang mau bekerja di BPR, mungkin karena lokasi jauh. Pengawasannya juga belum," kata dia.

Di tempat yang sama, Investigator Eksekutif OJK Syahrial Aziz menyatakan banyaknya kasus pidana perbankan di BPR karena kurangnya pengawasan pengurus bank.

Semestinya, pimpinan bank memperhatikan dan mengawasi pola kerja dan pola hidup pegawainya, karena itu terkait dengan kinerjanya di bank. "Harus dada kontrol internal," kata dia. [tar]

Komentar

 
x