Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:43 WIB

Pekerja Indonesia Tertolong Industri Tekstil

Oleh : - | Senin, 10 April 2017 | 08:09 WIB
Pekerja Indonesia Tertolong Industri Tekstil
(Foto: inilahcom/ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Anggapan bahwa industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) adalah sektor padat karya adalah benar adanya. Tahun ini, sektor industri ini menyerap sedikitnya 3 juta pekerja.

"Industri TPT dapat menjadi jaring pengaman sosial karena banyak menyerap tenaga kerja, hingga saat ini mencapai tiga juta orang," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meninjau pabrik jas terbesar di ASEAN, PT Daese Garmin di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Berdasarkan rilis kepada media di Jakarta, Kemenperin mencatat, tahun 2016, nilai investasi industri TPT mencapai Rp7,54 triliun. Dengan perolehan devisa yang signifikan dari nilai ekspor sebesar US$11,87 miliar, serta mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 17,03% dari total tenaga kerja industri manufaktur.

Masih kata Airlangga, Kemenperin telah melakukan pemetaan atas paket kebijakan ekonomi yang dinilai masih belum terealisasi guna mendongkrak pertumbuhan industri manufaktur nasional, termasuk industri TPT.

"Hal ini kami lakukan karena dalam tataran operasional masih terdapat satu komoditi yang diatur oleh berbagai institusi lain. Untuk itu perlu koordinasi sehingga tujuan paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah benar-benar bermakna bagi dunia usaha," ujarnya.

Saat ini, kata kader muda Partai Golkar ini, Kemenperin tengah menggodok regulasi khusus untuk industri padat karya berorientasi ekspor, di mana akan mengatur tentang pemberian insentif fiskal berupa investment allowance. "Jadi, pelaku usaha akan mendapatkan diskon PPh yang harus dialokasikan untuk ekspansi usaha," jelasnya.

Kemenperin juga sedang memacu kualitas produk industri TPT nasional agar mampu bersaing dengan kompetitor dari Bangladesh dan Vietnam. Indonesia memiliki potensi untuk unggul karena sektor ini telah terintegrasi dari hulu sampai hilir.

"Terkait perluasan pasar ekspor, kami juga mendorong untuk membangun perjanjian yang komprehensif dengan Eropa dan bilateral dengan Amerika Serikat agar bisa mendapat keringanan tarif yang lebih baik. Termasuk juga dengan industri kecil, kami akan fasilitasi untuk meningkatkan ekspor," katanya menjelaskan.

Airlangga menyampaikan, fenomena yang sedang terjadi saat ini adalah ada beberapa industri TPT yang memindahkan lokasi pabriknya dari Jawa Barat ke daerah lainnya terutama prioritas ke Jawa Tengah.

Ia menilai ini bukan tolak ukur bahwa provinsi dengan ibukota Bandung ini sudah kurang menarik sebagai basis industri TPT.

"Namun, perlu dinilai bahwa kepindahan tersebut karena faktor ekspansi dan mendekati kepada potensi dengan tujuan pemerataan investasi," tegasnya.

Airlangga berharap, para pelaku industri di Jawa Barat tetap serius mengembangkan usahanya karena daerah ini masih lebih unggul dalam hal menghadapi berbagai tantangan.

Sementara, PT Daese Garmin telah berdiri sejak 15 Maret 1988 di bawah Metro Group sebagai produsen dengan merk-merk global seperti Mark & Spencer, Calvin Klein, Hugo Boss dan Ralph Lauren. Penyerapan tenaga kerja di PT. Daese Garmin sekitar 6.000 orang yang tergabung dalam jumlah karyawan Metro Group sebanyak 16 ribu orang.

Produk yang dihasilkan perusahaan ini secara keseluruhan dipasarkan ke luar negeri. Pada 2016, negara tujuan ekspor utamanya adalah Amerika Serikat (85%), Eropa (5%), serta Jepang dan Korea (10%). Kapasitas produksinya mencapai 400 ribu pasang jas dan celana per bulan. [tar]

Komentar

 
x