Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 26 Juni 2017 | 05:33 WIB

Aminuddin Nurdin (eks Astra International Tbk)

Ikon Komunikasi Perusahaan di Indonesia

Oleh : Bachtiar Abdullah | Senin, 10 April 2017 | 01:00 WIB
Ikon Komunikasi Perusahaan di Indonesia
Buku Komunikasi dalam Praktik "Aminuddin Nurdin Astra" - (Foto: inilahcom/Bachtiar Abdullah)
facebook twitter

INILAHCOM Aminuddin Nurdin, tokoh komunikasi perusahaan dan public relations Indonesia menulis buku berjudul "Komunikasi dalam Praktik" setebal 248 halaman. (Terbitan Gagas Bisnis, 2016)

Buku ini ditulis berdasar pengalaman Aminuddin selama 16 tahun (1968 hingga 1984) sebagai tenaga pengajar di Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran dan praktik lapangan selama 36 tahun (1975-2011) saat berkarir di PT Astra Internasional Tbk.

Aminuddin jelas memiliki kerangka teroritis dalam bidang komunikasi yang dimanfaatkannya sebagai pisau analisis untuk mencari solusi dalam praktik komunikasi perusahaan (Corporate Communication).

Bekas CEO PT Astra International Tbk, Theodore Permadi Rachmat, yang mengenal Aminuddin sejak 1975, menyebut kepakaran "Am" (panggilan akrab Aminuddin) dalam bidang komunikasi "sudah tidak diragukan lagi." (hal.iii).

Sebagai perusahaan raksasa dengan 285 anak perusahaan, Astra International harus melewati beberapa gelombang krisis yang sebetulnya dapat menguncang kinerja perseroan. Saat itulah peran public relations dalam kerangka komunikasi perusahaan (corporate communication) pada sejumlah krisis tersebut amatlah krusial. Dengan pendekatan yang "kreatif dan bersahabat" Am dapat berkontribusi besar dalam mengembalikan perseroan pada rel yang benar di benak para pemangku kepentingan (stake holders).

Am terbukti dapat bekerja secara baik dengan delapan direktur utama atau CEO perusahaan raksasa tersebut; mulai dari CEO pertama William Soeryadjaya, Benyamin Arman Suriadjaya, TP Rachmat, Rini Soemarno, TP Rachmat (kembali), Budi Setiadharma, Michael D Ruslim hingga Prijono Sugiarto (CEO Astra sekarang).

Prinsip Am dalam karirnya di bidang komunikasi perusahaan adalah : "memegang teguh kepercayaan yang diamanahkan kepada kita, jujur, tahu diri, melaksanakan tanggung jawab dengan sepenuh hati. Dan berusaha mencapai hasil yang terbaik." Di samping itu Aminuddin memiliki jaringan kuat di kalangan media maupun praktisi komunikasi lainnya.

Terbukti buku "komunikasi dalam Praktik" disambut baik oleh 12 orang tokoh wartawan (termasuk Karni Ilyas, Bambang Harymurti, dan Suryo Pratomo) selain ilmuwan bidang komunikasi dan petinggi Polri

Pertama kali Astra mendapat hantaman ketika berkobar demonstrasi "anti Jepang" pada 15 januari 1974, ketika Perdana Menteri Kakuei Tanakan berkunjung ke jakarta. Mobil Jepang dibakar para perusuh yang menunggangi demo besar itu. Astra yang mengageni mobil Toyota dan sepeda motor Honda harus bekerja ekstra keras memulihkan kepercayaan konsumen Indonesia.

Setelah itu pertumbuhan Astra kian moncer dan menggeliat dan mendapat suntikan dana dari International Finance Corporation (IFC) yang berinduk pada World Bank pada 1989.

Ketika pintu pasar modal Indonesia dibuka kembali pada 1988, saham PT Astra International dicatatkan di Bursa Efek Surabaya. Aminuddin berperan besar dalam mengantarkan Astra melantai di Bursa Efek Surabaya.

Pada 1989 PT United Tractors, anak perusahaan Astra international, dilepas di bursa utama yakni Bursa Efek Jakarta. Peran Aminuddin amat penting dalam peristiwa United Tractors go public tersebut.

Pada 1990, meletup kasus Bank Summa yang dipimpin putra William Soeryadjaya, pendiri Astra. Meskipun pemegang saham Bank Summa adalah PT Summa International Finace Ltd secara legal tak ada kaitannya dengan Astra, om Willem (panggilan akrab William Soeryadjaya) berupaya keras agar Bank Summa diselamatkan dan tak menyeret PT Astra Internasional.

Bank Summa lunglai terutama karena brankasnya dikuras (rush) oleh para nasabahnya. Aminuddin ditugaskan oleh CEO Astra TP Permadi untuk menjelaskan persoalan Bank Summa kepada masyarakat. Aminuddin bekerja keras dan berkomunikasi intensif dengan para nasabah bahkan menggelar konferensi pers.

Om Wilem menutup bobolnya Bank Summa dengan membayar tabungan dan deposito para nasabah Bank Summa, meskipun pada September 1992 akhirnya Bank Summa dilikuidasi oleh bank Indonesia .

Astra juga tak luput diterpa badai krisis 1997-1998 ketika dolar Amerika melambung tinggi sehingga banyak perusahhaan yang banyak menggunakan "green buck" dalam impornya menjadi terjerembab. Astra melakukan restrukturiasasi keuangannya, termasuk merampingkan jumlah karaywannya. Aminuddin harus bekerja keras membantu jajaran direksi dan komisaris meredam krisis moneter yang berimbas besar terhadap Astra.

Buku "Komunikasi dalam Praktik " ini layak menjadi referensi bagi para mahasiswa dan pengajar komunikasi. karena Aminuddin menyodorkan bedah kasus-kasus krisis komunikasi dengan pisau analisis yang tepat .

Aminuddin Nurdin lahir di Bukittinggi pada 17 September 1945, masuk Unpad pada 1964 dan meraih gelar sarjana komunikasi pada 1971.

Selama 36 tahun berkiprah di Astra, Aminuddin menjalani dan mendalami nilai-nilai Astra yang ditanamkan oleh para pendiri Astra (terutama Om Willem) sehingga hingga nilai-nilai tersebut mendarah daging (internalized). Aminuddin kini sudah mewariskan nilai-nilai Astra tersebut kepada generasi Astra yang lebih muda.

Sejak lima tahun terakhir Aminuddin kembali dipercaya menjabat Corporate Secretary perusahaan Grup Bisnis Triputra dan milik bekas CEO Astra TP Rachmat dan Grup Kirana Megantara milik TP Rachmat dan Wakil CEO Astra Benny Subianto.

 
Embed Widget

x