Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 07:23 WIB

Faktor Ini Bisa Pengaruhi Ekspor Non-Migas

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 11 April 2017 | 17:29 WIB
Faktor Ini Bisa Pengaruhi Ekspor Non-Migas
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Belakangan ini pemerintah Indonesia tengah disibukkan menanggapi executive order yang telah diterbitkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum lama ini.

Executive order atau aturan baru yang baru diterbitkan Donald Trump ini tujuannya menyelidiki negara-negara mitra dagangnya yang menyebabkan neraca perdagangan AS defisit sebanyak 16 negara, termasuk Indonesia.

Lantas bagaimana peluang ekspor Indonesia ke negeri Paman Sam, setelah penyelidikan Trump benar-benar selesai. Apakah bakal mengganggu kinerja ekspor RI, terutama ekspor non migas?

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan peluang tersebut bisa saja terjadi kepada Indonesia.

"Untuk produk CPO (Crude Palm Oil) dan biofuel kita rentan," kata Bhima saat berbincang kepada INILAHCOM, Selasa (11/04/2017).

Apalagi kata Bhima satu minggu sebelum executive order yang dilakukan Trump, asosiasi biofuel AS mengeluarkan petisi yang menyebut bahwa Indonesia bersama dengan Argentina telah melakukan dumping.

"Karena kan 1 minggu sebelum executif order Trump asosiasi biofuel AS ngeluarin petisi nuduh Indonesia dan argentina melakukan dumping," katanya.

Namum kata Bhima executive order Trump tidak akan berlangsung lama, pasalnya 16 negara yang dituduh oleh Trump akan protes keras kepada AS bahkan bisa membawa kasus ini ke World Trade Organizatition (WTO).

"Pasti ada pengaruh. Tapi kelihatannya executive order Trump engga akan berjalan lama. Protes bakal kenceng dari 16 negara," katanya.

Asal tahu saja Presiden Trump mengaku kecewa melihat kondisi neraca perdagangan AS defisit hingga US$ 500 miliar atau setara dengan Rp 6.650 triliun (kurs Rp 13.300) selama 2016, dengan 16 negara termasuk dengan Indonesia.

Untuk itu Trump mengeluarkan perintah eksekutif atau excecutive order yang berisi dua bagian. Pertama, Trump memerintahkan agar dalam 90 hari Kementerian Perdagangan AS menyusun laporan faktor penyebab defisit perdagangan negara tersebut.

Kedua, peningkatan pendapatan cukai impor atas barang masuk ke AS.

Perintah eksekutif ini bertujuan untuk melindungi perekonomian AS dari politik dumping (harga barang ekspor lebih murah dibanding harga barang di negara produsen) yang dilakukan negara partner dagang atau currency manipulation (manipulasi kurs) agar harga barang dari negara partner menjadi lebih murah.

Berdasarkan data Badan Pusat (BPS) Statistik neraca perdagangan khususnya ekspor dan impor antara Indonesia dengan AS pada dua bulan pertama di 2017 mengalami surplus US$ 1,673 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika di Januari-Februari 2017 mengalami pengingkatan jika dibandingkan dengan dua bulan pertama di 2016.

Untuk ekspor baik non migas maupun migas meningkat 16,84% atau sebesar US$ 2,875 miliar jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$ 2,460 miliar.

Jika dirinci, ekspor non migas pada periode Januari-Februari 2017 sebesar US$ 2,781 miliar atau naik 17,06% dari periode 2016 yang hanya sebesar US$ 2,376 miliar. Sedangkan ekspor migas naik 10,84% menjadi US$ 93,282 juta dibanding sebelumnya yang hanya US$ 84,160 juta.

Sedangkan impor, dalam data BPS juga dicatat mengalami pertumbuhan sebesar 18,68% menjadi US$ 1,202 miliar jika dibandingkan pada periode dua bulan pertama di 2016 yang hanya sebesar US$ 1,013 miliar. [hid]

Komentar

 
x