Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 30 Mei 2017 | 05:48 WIB

Airlangga Ramal Manufaktur RI Lompat 3 Tingkat

Oleh : - | Selasa, 18 April 2017 | 03:09 WIB
Airlangga Ramal Manufaktur RI Lompat 3 Tingkat
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Surabaya - Pada 2016, industri manufaktur Indonesia berada di urutan 10 dunia, berdasarkan statistik United Nations Industrial Development Organization (UNIDO). Sebentar lagi diramal melompat ke peringkat tujuh.

"Salah satu kunci utama dari industri, itu adalah infrastruktur terutama industri gas dan listrik, jadi kalau dapat harga gas dan listrik yang kompetitif, kita bisa loncat ke nomor tujuh," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Surabaya, Jawa Timur, Senin (17/4/2017).

Airlangga menjelaskan, harga gas yang kompetitif bakal memberikan efek berganda bagi perekonomian Indonesia. Selain itu, industri manufaktur bakal berlari kencang. Alhasil, penyerapan tenaga kerja dan penghematan divisi, bisa naik tinggi.

"Infrastruktur lainnya, jalan tol, kita belum selesai, mudah-mudahan tambah bagus. Kemudian, pelabuhan, juga diharapkan semakin baik untuk logistik," kata Airlangga.

Kata politisi Golkar ini, rantai pasok industri dan pengembangan teknologi, perlu terus diperkuat. "Industri itu kan makanannya teknologi, kalau pabrik kan makanannya bahan baku. Selain itu, perlu adanya kebijakan insentif fiskal yang saat ini mundur maju, kami Kemenperin menginginkan adanya kejelasan industri itu mendapatkan atau tidak," papar Airlangga.

Informasi saja, data UNIDO merilis adanya nilai tambah industri manufaktur di dunia pada 2016 sebesar US$11 triliun. Dari nilai tersebut, sebesar 78,46% berasal dari 15 negara teratas.

Di mana, Indonesia berada di posisi 10 dengan nilai tambah manufaktur US$229 miliar. Atau kontribusi nilai tambah manufaktur dunia sebesar 1,93%. Masih di bawah Perancis dan Brasil yang menempati posisi delapan dan sembilan. "Kita bisa geser Brasil dan Perancis, tetapi itu kuncinya di infrastruktur," kata Airlangga.

Airlangga mengatakan, peran sektor industri dalam perekonomian nasional, tak bisa dianggap enteng. Untuk itu, perlu kebijakan khusus berskala nasional di sektor industri. Tujuannya untuk mengakselerasi pertumbuhan industri nasional.

Kebijakan tersebut tercantum dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 2015-2035 yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2015. Di mana, RIPIN memuat visi pembangunan industri untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara industri tangguh, yang dijabarkan kedalam target-target capaian dalam beberapa tahapan. [tar]

 
x