Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 17 Oktober 2017 | 16:26 WIB

BI Tetap Waspadai Ketidakpastian Global

Oleh : M Fadil Djailani | Jumat, 28 April 2017 | 18:49 WIB
BI Tetap Waspadai Ketidakpastian Global
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai ketidakpastian ekonomi global masih menjadi ancaman bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

Apalagi ketidakpastian politik dan perang di sejumlah negara membuat kekhawatiran banyak pihak. Belum lagi pemilihan umum di sejumlah negara yang menambah ketidakpastian ekonomi. Selain itu juga proteksionisme yang dilakukan Presiden Donald Trump.

Hal tersebut dikatakan Agus dalam acara "Economic Outlook In Asean Persepctive" di Bank Indonesia, Jumat (28/04/2017).

"Ekonomi global menghadapi produktivitas yang relatif rendah di negara maju dan negara-negara emerging market. Jelas, kita harus tetap waspada terhadap ekonomi global," katanya.

Selain itu isu yang harus tetap diwaspadai adalah isu fundamental seperti bagaimana memperbaiki produktivitas dan menangani populasi yang menua, selain itu juga masalah kesenjangan ekonomi yang makin hari-semakin banyak diperbincangkan oleh semua pihak.

"Faktanya isu kesenjangan telah menarik perhatian pemangku kebijakan. Beberapa sudah ditantang dengan isu multilateralisme yang kita sudah tahu. Debat-debat terkait kebijakan mengemuka. Situasi ini menjadi sulit bagi negara emerging market yang mengadopsi konsep ekonomi terbuka dan berkontribusi pada perbaikan pertumbuhan global," jelas dia.

Lebih lanjut, kata Agus, dengan kondisi itu maka tantangan yang dihadapi ekonomi Asia menjadi lebih kompleks. Apalagi hingga beberapa dekade lalu, Asia menghadapi krisis finansial serta kontraksi ekonomi yang sangat dalam terjadi di hampir semua negara di kawasan itu.

"Krisis juga membuat sektor keuangan tidak stabil, menyebabkan peningkatan utang pemerintah pada bank. Bahkan menyebabkan ketegangan politik dan sosial serta keyakinan konsumen hilang," tandasnya. [hid]

Komentar

 
x