Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 Juli 2017 | 17:31 WIB

Ini Cerita Ketimpangan Sejak Era SBY Hingga Jokowi

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 4 Mei 2017 | 15:17 WIB
Ini Cerita Ketimpangan Sejak Era SBY Hingga Jokowi
Presiden ke-5 Susilo bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo - (Foto: Presidenri.go.id)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Laporan Oxfam Indonesia dan International NGO Forum on Indonesia Development (lNFID) pada 23/2/2017, menguak kondisi ketimpangan ekonomi Indonesia yang memprihatinkan.

Dalam laporannya, Oxfam Indonesia dan INFID mengungkapkan bahwa kesenjangan antara segelintir orang terkaya dan mayoritas penduduk Indonesia masih lebar.

Tak hanya Oxfam dan INFID, Insititute for Development of Economics and Finance (Indef) pun senada, menurut lembaga kajian ekonomi tersebut semenjak desentralisasi ketimpangan ekonomi semakin melebar, atau dari era SBY hingga Jokowi ketimpangan makin meningkat dan masih menjadi momok utama.

"Kalau dibilang turun (ketimpangan) memang turun, tapi sejak desentralisasi ketimpangan ekonomi semakin melebar," ungkap ekonom Imaduddin Abdullah dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (4/5/2017).

Bahkan jika dibandingkan dengan negara Asia lanjut Imaduddin, Indonesia juga masuk dalam kategori timpang yang cukup parah dengan 39,4, kalah dengan Thailand 37,85, Vietnam 37,6, Jepang 32,1, Taiwan 33,3 dan Korea Selatan 31,3. Beruntung Indonesia menang dari Malaysia dan Filihipina yang ketimpangan ekonominya lebih parah, masing-masing 46,3 dan 43.

Imaduddin mengatakan faktor utama pemicu ketimpangan ekonomi di Indonesia ada 3 faktor. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas, artinya pertumbuhan ekonomi sektor tradable lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sektor non-tradable.

Kedua, adalah ketimpangan untuk mendapatkan akses, artinya ketimpangan dalam kemampuan di antara kelompok masyarakat untuk mengakses fasilitas dasar.

"Misal soal mendapatkan akses imunisasi, masyarakat kebawah mungkin hanya mendapatkan akses imunisasi hanya sekitar 40%, tapi bagi masyarakat kelas atas mendapatkan imunisasi dengan lengkap hampir 95%," katanya.

Dan yang ketiga adalag ketimpangan memiliki aset, semisal tanah, artinya ketimpangan kepemilikan lahan tanah membuat masyarakat kelas bawah sulit untuk mendapatkan lahan, untuk melakukan aktivitas ekonominya seperti bertani. [hid]

 
x