Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 November 2017 | 02:24 WIB

Ketimpangan Turun, Ini Alasannya

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 4 Mei 2017 | 15:45 WIB
Ketimpangan Turun, Ini Alasannya
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun lalu merilis dua kali angka gini rasio atau ketimpangan pendapatan ekonomi bagi masyarakat Indonesia pada periode Maret 2016 dan September 2016.

Hasilnya ketimpangan ekonomi RI turun dari 0,397 pada Maret 2016 menjadi 0,394 pada September 2016. Lantas berkualitaskah penurunan ketimpangan ekonomi ini?

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Imaduddin Abdullah menilai penurunan ketimpangan tersebut tidak begitu berkualitas, lantaran 20% masyarakat kelas atas mengurangi pengeluaran mereka alias malas belanja.

"Sejak tahun 1999, ketimpangan di Indonesia semakin lebar. Ketimpangan terus alami penurunan secara bertahap, karena orang yang level atas kurangi konsumsi bukan karena orang kecil yang meningkat pendapatannya," ungkap Imaduddin dalam sebuah diskusi di Kantornya, Jakarta Kamis (4/5/2017).

Imaduddin mengatakan faktor utama pemicu ketimpangan ekonomi di Indonesia ada 3 faktor. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas, artinya pertumbuhan ekonomi sektor tradable lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sektor non-tradable.

Kedua, adalah ketimpangan untuk mendapatkan akses, artinya ketimpangan dalam kemampuan di antara kelompok masyarakat untuk mengakses fasilitas dasar.

"Misal soal mendapatkan akses imunisasi, masyarakat kebawah mungkin hanya mendapatkan akses imunisasi hanya sekitar 40%, tapi bagi masyarakat kelas atas mendapatkan imunisasi dengan lengkap hampir 95%," katanya.

Dan yang ketiga adalah ketimpangan memiliki aset, semisal tanah, artinya ketimpangan kepemilikan lahan tanah membuat masyarakat kelas bawah sulit untuk mendapatkan lahan, untuk melakukan aktivitas ekonominya seperti bertani. [hid]

Komentar

 
x