Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 23 November 2017 | 16:36 WIB

Sri Mulyani:

Kompetisi Sehat Jepang -China di Indonesia

Oleh : Bachtiar Abdullah | Jumat, 5 Mei 2017 | 16:22 WIB
Kompetisi Sehat Jepang -China di Indonesia
Sri Mulyani di Nikei Asian Review - Nikei
facebook twitter

INILAHCOM, Yokohama -- Kompetisi antara Jepang dan China dalam pembangunan infrastruktursangat sehat, dan akan membantu pembangunandi kawasan Asean, ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada wartawan Nikei Asian Review, Kamis (4/5/2017).

Jepang mengedepankan "infrastruktur berkualitas tinggi" di Asia dan yakin akan dibekingi oleh Asian Development Bank (ADB) yang memiki hubungan dekat dengan negara-negara Asia. Di sisi lain, China menawarkan alternatif biaya pembangunan infratruktur yang lebih murah dengan memanfaatkan dana pinjaman Asian Infrastrukture Investment Bank yang dimotori Beijing.

"Ini sebuah persaingan yang bagus." Ujar Menkeu Sri Mulyani yang berada di Yokohama dalam rangka menghadiri rapat tahunan ADB."Anda kan tidak ingin membangun infrastruktur berkualitas tinggi jika tak terjangkau oleh negara yang didanai. Dengan kombinasi penawaran dari China, maka terciptalah kompetisi yang dapat menurunkan ongkos pembangunan infrastruktur,"tutur Menkeu Sri.

Sri Mulyani menambahkan bahwa stadar tinggi pembangunan infrastruktur yang lazin dilakukan Jepang berdampak bagus untuk lingkungan dan masyarakat serta biasa transpara dalam pendanaan proyek yang dapat memotivasi AIIB bakal menerapkan standar Jepang yang tinggi tersebut.

"Saya benar-benar menghargai infrastruktur standar Jepang. Saya tahu Jepang menggunakan standar lingkungan sosial serta pengadaan material dan seleksi kontraktor proyek yang sangat ketat. Kami tidak ingin kompromi dengan standar tersebut."kata Menkeu Sri.

. Kami di Asean tak ingin harga murah tapi kualitasnya rendah dan mengotori lingkungan," tambah Menkeu alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Menurut Menkeu Sri, kerjasama antara ADB dan AIIB sangatlah penting untuk mencukupi kebutuhan infrastruktur Asia yang sangat besar. ADB memperkirakan pembangunan infrastruktur di Asia membutuhkan investasi lebih dari US$ 26 triliun hingga 2030 agar perekonomian tidak kehilangan momentum untuk tumbuh.

Meskipun AIIB koceknya tebal, menurut Menkeu Sri, tapi mereka masih baru dalam pembiayaan infrastruktur skala besar serta kekurangan staf yang dapat menangani proyek-proyek infrastruktur. Karena itulah AIIB harus bekerjasama dengan ADB.

Kadang-kadang sebuah proyek sudah dirancang dan dikembangkan oleh di Bank Dunia yang menyediakan pendanaan sebesar 10 persen. Dan sisanya ditanggung ADB.Sementara AIIB terus mencari dan membidik proyek-proyek potensial dan timgga meminjamkan uang tanpa pusing menyiapkan rancangan proyek yang menyeluruh. Sementara itu ADB sudah berpengalaman dan kondang menangani proyek pembangunan infrastruktur.

Kesimpulannya , jalan terbaik adalah AIIB bekerjasama dengan ADB yang telah mengenyam banyak pengalaman di Asia.

Komentar

 
x