Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 26 Mei 2017 | 22:00 WIB

Agar Manufaktur Lari Kencang, Airlangga Minta Ini

Oleh : M fadil djailani | Sabtu, 6 Mei 2017 | 14:17 WIB
Agar Manufaktur Lari Kencang, Airlangga Minta Ini
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Industri manufaktur skala mikro hingga besar, menunjukkan geliatnya. Akan lebih membesar bila pemerintah menurunkan tarif listrik dan harga gas.

Melalui rilis kepada media di Jakarta, Jumat (5/5/2017), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan hal itu. Bahwa pertumbuhan industri nasional ditopang laju investasi di dalam negeri.

Di samping itu, kata Airlangga, komitmen Presiden Joko Widodo dalam membangun infrastruktur secara agresif, memberikan dampak signifikan. Menarik minat pelaku usaha kelas dunia untuk membangun bisnis di tanah air.

"Dalam rangka menjaga momentum kenaikan ini, yang terpenting adalah iklim bisnis di Tanah Air tetap kondusif. Apalagi pemerintah telah mengeluarkan berbagai paket kebijakan ekonomi. Beberapa sektor seperti industri otomotif, tekstil, dan olahan susu telah merealisasikan investasinya," kata Airlangga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi industri manufaktur besar dan sedang di triwulan I-2017, naik 4,33%. Adapun produksi industri manufaktur mikro dan kecil tumbuh lebih besar yakni 6,63%.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang, kata Airlangga, terjadi di industri kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 9,59%; industri makanan 8,20%; serta industri karet, barang dari karet, dan plastik sebesar 7,80%.

Politisi Partai Golkar ini optimistis, pertumbuhan tersebut akan lebih terdongkrak lagi apabila pemerintah menurunkan harga gas dan listrik. "Bahkan, itu bisa menambah daya saing industri nasional di kancah global," tegas Airlangga.

Periode Januari-Maret 2017, nilai ekspor nonmigas dari industri pengolahan naik 19,93% dibanding periode yang sama 2016. Ekspor nonmigas Maret 2017 terbesar adalah ke China sebesar US$1,78 miliar. Disusul Amerika Serikat US$1,51 miliar dan Jepang US$1,26 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,72 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,46 miliar.

Industri pengolahan mampu memberikan nilai tambah tinggi pada komoditas primer, menyediakan lapangan kerja, mendatangkan devisa dari ekspor, dan menghemat devisa ketika memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Airlangga memproyeksikan, industri pengolahan non-migas tumbuh di kisaran 5,2-5,5% dengan target pertumbuhan ekonomi 5,1-5,4% pada 2017. "Industri menjadi sektor yang memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional," ungkap Airlangga. [ipe]

 
x