Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 25 Juli 2017 | 23:49 WIB

Teknologi Disruptive Diperlukan

Warga Lanjut Usia Makin Banyak di Asia Tenggara

Oleh : Bachtiar Abdullah | Senin, 8 Mei 2017 | 15:47 WIB
Warga Lanjut Usia Makin Banyak di Asia Tenggara
Woodlands Integrated Health Campus, Singapore - riset
facebook twitter

INILAHCOM, Kuala Lumpur Populasi Asia Tenggara kini ditengarai oleh makin banyaknya warga lanjut usia yang membebani mereka yang berusia produktif.

Tapi wilayah Asia Tenggara cukup responsif menghadapi tren yang tak terelakkan ini, dengan mengandalkan teknologi tinggi setidaknya untuk memperlambat banyaknya warga yang tidak lagi produktif.

PBB merilis data bahwa populasi orang lanjut usia di Asia Pasifik lebih cepat berkembang dibanding dengan bagian dunia lainnya. Mereka yang berusia di atas 60 tahun diproyeksikan meningkat dari 12,6 % (2016) menjadi lebih dari 25% pada 2050.Berarti kawasam Asia Pasifik harus bergegas mempersiapkan layanan perawatan kesehatan.

WHO mencatat perbedaan akses terhadap perawatan kesehatan juga sangat besar. Di negara padat penduduk seperti Indonesia dan Myanmar ratio dokter per 1.000 penduduk hanya mencapai di bawah 1,0. Bandingkan dengan Singapura yang sudah mencapai 1,9.

Indonesia dan Myanmar masing-masing harus memikirkan kembali strategi perawatan kesehatan. Pemerintah dan swasta di kawasan ini kini merencanakan mendirikan "rumah sakit masa depan" untuk layanan kesehatan berbasis teknologi baru yang "disruptive" untuk menganalisis data dan intelijen artifisial.

Singapura kini sedang menggarap proyek layanan kesehatan ambisius di "Woodlands Health Campus". Ini adalah fasilitas terpadu antara rumah sakit dan panti jompo. Ketika selesai pada 2022, di "Woodlands Health Campus" akan tersedia 1.800 tempat tidur di dua rumah sakit dan panti jompo tersebut sehingga diperkirakan akan mampu menampung sebagian warga lanjut Singapura.

"The Woodlands Health Campus harus siap untuk masa depan," kata Gan Kim Yong, menteri kesehatan Singapura pada akhir April lalu. Seperti ditulis The Straits Times, Senin (8/5/2017).

Pemerintah Singapura menginginkan fasilitas tersebut menyediakan "perawatan nirkabel, berpusat pada si penderita, dan erat erhubungan dengan teknologi dan inovasi" sebagailangkah signifikan menuju layanan berbasis nilai.

Tapi negara lain di kawasan Asean ini tidak seberuntung Singapura . Banyak yang masih belum memiliki skema asuransi kesehatan nasional, yang memaksa pemerintahnya untuk mensubsidi perawatan kesehatan masyarakatdi rumahsakit- rumah sakit pemerintah, sehingga pemerintah perlu merogoh kantung lebih dalam. Sementara kalangan memangah dan kaya dapat memilih perawatan kesehatan swasta.

Untuk mengatasi masalah ini, alih-alih hanya mengandalkan lebih banyak dokter dan perawatkesehatan, rumah sakitkini mulai mencari teknologi untuk menyengatasipenyakityang diderita masyarakat. Misalnya, komputasi digunakan untuk mengelola data pasien dan catatan diagnosis,sehingga meniadakan entri manual yang agak padat karya.

 
x