Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 September 2017 | 13:44 WIB

Cukong China Kepincut Pabrik Pengolahan Batubara

Oleh : - | Rabu, 10 Mei 2017 | 17:29 WIB
Cukong China Kepincut Pabrik Pengolahan Batubara
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Beijing - Sejumlah perusahaan di China menyatakan minatnya untuk membangun industri pengolahan batubara di Indonesia.

"Ada beberapa perusahaan yang tertarik untuk investasi industri pengolahan batu bara," kata Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia, Soegeng Rahardjo di Beijing, China, Rabu (10/5/2017).

Saat ini, Kedutaan Besar RI di Beijing terus menawarkan potensi industri pengelolaan batubara kepada para invevstor China. "Beberapa mesin pembangkit listrik di China sudah mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga nantinya tidak menggunakan batu bara mentah lagi, melainkan dalam bentuk cair atau kimia," ujar Soegeng.

Soegeng menyebutkan, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, merupakan wilayah yang menjadi incaran para investor China. Dengan masuknya beberapa investor China, Indonesia bisa menjadi negara terbesar di industri pengolahan batubara kawasan Asia Tenggara.

Industri pengolahan batubara ini, sesuai dengan amanat UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). "Bahkan dengan diterapkannya UU Minerba yang mengamanatkan bahwa kita tidak boleh ekspor bahan mentah telah menjadikan Indonesia sebagai negara produsen baja terbesar ketiga di dunia," kata Soegeng.

Menurut dia, pencapaian prestasi itu salah satunya disebabkan oleh investasi langsung dari China di wilayah Sulawesi Tengah. "Oleh sebab itu perkembangan ekonomi di Pulau Sulawesi lebih tinggi dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia karena salah satunya banyak investasi asing dari China," kata Soegeng.

Tidak lama lagi, ungkap Soegeng, perusahaan nasional Bumi Resources bekerja sama dengan perusahaan China untuk membuka pabrik zinc di wilayah Sumatera Utara.

Dengan demikian, menurut dia, kebutuhan bahan kimia yang selama ini tergantung pada komoditas impor dari Australia bisa tercukupi dari dalam negeri. "Kalau hal itu terwujud, saya yakin devisa yang selama ini habis untuk impor bahan kimia bisa terselamatkan," kata Soegeng.

Dengan diterapkannya UU Minerba itu, kata Soegeng, ekspor minyak dan gas Indonesia ke China, bisa ditekan. Pada 2015, ekspor migas Indonesia ke China mencapai US$2,78 miliar. Namun pada 2016, angkanya menurun 26,6% menjadi US$2,04 miliar.

Seratus delapan pluh derajat dengan ekspor nonmigas Indonesia ke China, melompat hingga 12,8%, dari US$17,02 miliar pada 2015, menjadi US$19,21 miliar pada 2016. [tar]

 
x