Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 28 Mei 2017 | 11:41 WIB

GAPKI: Resolusi Sawit Parlemen Eropa Enggak Ngefek

Oleh : - | Kamis, 11 Mei 2017 | 06:09 WIB
GAPKI: Resolusi Sawit Parlemen Eropa Enggak Ngefek
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Meski sawit Indonesia diganggu resolusi Parlemen Eropa, ekspor minyak sawit ke Benua Biru bergeming, alias enggak ngefek.

Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Kanya Lakshmi Sidharta mengatakan, ekspor minyak sawit ke negara-negara Uni Eropa meningkat 27%. "Meskipun ada resolusi sawit dari Parlemen Eropa pada pertengahan Maret 2017, ekspor naik 27%," papar Kanya dalam rilis kepada media di Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Sepanjang Maret 2017, kata Kanya, skspor minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa sebesar 446,92 ribu ton. Sementara ekspor Februari sebesar 352,02 ribu ton. "Kenaikan ini, menunjukkan bahwa negara-negara di Eropa tetap membutuhkan minyak sawit. Karena, beberapa proses produksi di industri, sangat bergantung kepada minyak sawit. Harganya lebih murah dibandingkan minyak nabati lain," papar Kanya.

Masih kata Kanya, terjadi kenaikan permintaan yang signifikan dari Amerika Serikat (AS) sebesar 52%. Dari 54,85 ribu ton di Februari menjadi 83,38 ribu ton pada Maret. Kenaikan permintaan minyak sawit dari Indonesia juga diikuti sejumlah negara di Afrika sebesar 13% dan Pakistan 10%.

Padahal, kata Kanya, beberapa minggu sebelumnya, Asosiasi Minyak Nabati Amerika Serikat (AS) menuduh Indonesia melakukan praktek dumping terhadap biodiesel yang diekspor. Namun, hal ini belum berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit dan produk turunannya ke AS.

Sebaliknya, negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia yaitu India dan China, justru membukukan penurunan. Pada Maret, India mencatatkan penurunan sebesar 27%, atau dari 587,93 ribu ton di Februari menurun menjadi 430,03 ribu ton.

Diikuti China turun 18%, atau dari 344.09 ribu ton di Februari turun menjadi 322.14 ribu ton. "Kedua negara ini menurunkan permintaan karena stok rapeseed di kedua negara yang berlebihan khususnya India," papar Kanya. [tar]

 
x