Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 26 Mei 2017 | 22:02 WIB

Neraca Berjalan Surplus

Jepang Makin Rajin Mendanai Proyek Luar Negeri

Oleh : Bachtiar Abdullah | Jumat, 12 Mei 2017 | 11:39 WIB
Jepang Makin Rajin Mendanai Proyek Luar Negeri
Tokyo Central Business Districk - (Foto: moonwater)
facebook twitter

INILAHCOM, Tokyo - Neraca berjalan Jepang kini melebihi pencapaian pada 2007, mengindikasikan bahwa ekonomi Jepang telah pulih sejak ditimpa kebocoran reaktor nuklir PLTN Fukushima.

Pada tahun Fiskal yang berakhir 31 Maret 2017, surplus mencpai 20,2 triliun Yen (US$ 177 miliar) sama dengan 3,8 persen GDP Jepang dan ketiga terbesar dalam angka absolutnya.

Tren surplus ini ada;ah cermin dari meningkatnya aktivitas perdagangan Jepang sebagai dampak rendahnya harga minyak serta dari pendapatan saham dan obligasi yag dibeli Jepang di luar negeri. Jepang adalah salah satu kreditur terbesar di dunia. Neraca perdagangan barang dan jasa Jepang hanya mencapai surplus yang kecil, hanya 4,3 triliun Yen atau 0,8 persen dari GDP, karena rendahnya impor akibat menurunnya harga minyak serta lemahnya ekspor yang terkait lembiknya perekonomian dunia.

Neraca perdagangan Jepang meningkat dibanding defisit perdagangan yang terjadi pada 2011-2015 setelah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima mati yang mengakibatkan impor minyak Jepang menanjak

Ekonomi Jepang kini sedang berevolusi dari yang dahulunya mengandalkan ekspor menjadi perekonomian yang mengandalkan pada pendapat bunga dan dividen dari investasi pada saham dan obligasi di luar negeri, karena Jepang adalah salah satu kreditur terbesar di dunia.

Meskipun sedikit menurun dibanding tahun lalu, pendapatan utama Jepang dari investasi langsung di sektor riil dan investasi tak langsung dalam portofolio (saham dan obligasi) mencapai 18 triliun atau 3,3 persen dari GDP.

Jepang juga berhasil mencatat surplus dalam perdagangan yang mencapai 1,5 triliun Yen, serta pendapatan dari sektor pariwisata sebesar 1,3 triliun (terutama disumbang oleh kedatangan wisatawan dari China).

"Ke depan, kita berharap surplus neraca berjalan dibanding GDP akan mengecil namun di atas 3,5 sepanjang 2017 dan surplus perdangan yang stabil sementara trend surplus pendapatan ekspor-impor menurun," tutur Yuka Mera di JP Morgan, Tokyo.

Harumi Taguchi, Ekonom utama HIS Markit di Tokyo meyakini surplus neraca berjalan bakal stabil dalam waktu dekat. "Kami berharap Yen yang lemah, dan perekonomian global menguat sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekspor dan pendapatan dalam mata uang asing dari investasi Jepang," tambah Taguchi-San.

(Sumber: Finacial Times dan Nikei Asian Review)

 
x