Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 24 Juli 2017 | 15:35 WIB

Gaduh Cantrang Ikan, DPR Sebut Susi Menteri Gagal

Oleh : M fadil djailani | Sabtu, 13 Mei 2017 | 17:09 WIB
Gaduh Cantrang Ikan, DPR Sebut Susi Menteri Gagal
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melarang penggunaan cantrang mendapat kritik keras dari kalangan DPR. Bahkan berbuah sebutan menteri gagal.

Anggota Komisi IV DPR asal Partai Golkar, Ihsan Firdaus menyebut, Menteri Susi adalah menteri gagal. Kebijakan melarang penggunaan cantrang mendapat penolakan keras dari nelayan. Akibatnya, kebijakan tersebut harus ditarik.

"Ibu Susi tidak melihat impilkasi dari Peraturan tersebut (pelarangan cantrang), Ibu Susi tidak melihat dampak, gagal dari kebijakan perencanaan," kata Ihsan dalam sebuah diskusi di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/5/2017).

Ihsan mencontohkan, Permen 1 Tahun 2015 tentang pelarangan lobster, berdampak tak kalah buruknya bagi petani lobster di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di mana, mereka harus kehilangan pekerjaan.

Tak hanya petani lobster yang tertimpa apes, lanjut Ihsan, pekerja informal lainnya juga kebagian getahnya. "Sama juga dengan Permen Nomer 2 Tahun 2015 (tentang pelarangan cantrang), juga sama Ibu Susi tidak melihat dampaknya, akibat ini 16 pabrik surumi harus tutup di sepanjang pesisir Jawa, nilainya mencapai Rp2,4 triliun, belum implikasi lain," papar Ihsan.

Seharusnya kata Ihsan, sebelum mengelurkan Permen pelarangan cantrang tersebut, Menteri Susi harus berdialog keseluruh stakeholder yang ada, karena kebijakan kemaritiman tidak bisa diambil oleh sekolompok atau sebagian pihak saja.

"Kalau mau membuat kebijakan menteri, seharusnya ada diskusi dulu dialog, harusnya mendapatkan masukan stakeholder bukan hanya nelayan. Harus ada dialog," katanya. [ipe]

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memaparkan alasan pelarangan penggunaan alat penangkap ikan jenis pukat atau cantrang yang mengancam ekosistem laut. Penggunaan alat ini sama dengan membuang potensi laut dan perikanan yang seharusnya bisa dinikmati oleh generasi di masa depan.

Saat ini, kata Susi, penggunaan cantrang ikan terbukti merusakkan sebagian besar kekayaan laut di sepanjang Pantai Utara Pulau jawa atau Pantura. Hal itu dicermati dari penurunan hasil tangkapan nelayan berupa udang, rajungan, dan berbagai jenis ikan di Pantura terjadi akibat over fishing dengan cantrang.

Susi menilai, seharusnya nelayan Indonesia bersyukur karena Indonesia hanya memberlakukan peralihan alat tangkap bukan moratorium penangkapan ikan seperti yang dilakukan beberapa negara lain.

"Orang lain moratorium total, di Thailand, China, Vietnam, dilarang tangkap ikan. Kita cuma pergantian alat tangkap. Tujuannya jangan sampai terjadi seperti Bagan Siapi-api. Dulunya surga ikan, akibat ekspoitasi jadi mati," kata Susi.

Cantrang ini yang menimbulkan konflik horizontal antar-nelayan dari zaman dahulu. Banyak nelayan yang tidak suka dengan kapal yang menggunakan cantrang. [ipe]

 
x