Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 14 Desember 2017 | 01:37 WIB

Perang Pangan yang Mengerikan

Oleh : Latihono Sujantyo | Selasa, 16 Mei 2017 | 20:39 WIB
Perang Pangan yang Mengerikan
Kapal perang AS di Laut Cina Selatan - (Foto: Naval Today)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta -- Aksi kelompok asing mencaplok kekayaan alam Indonesia yang berlimpah bukan tak mungkin terjadi. Mesin perang mulai dihidupkan.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo beberapa kali pernah mengingatkan bangsa ini agar mulai waspada dan menjaga kekayaan alam yang dimiliki. Sebab, perang di masa mendatang, katanya, adalah perang pangan, air, dan energi.

"Kita harus waspada dengan kekayaan alam yang kita miliki karena menjadi bahan rebutan negara-negara asing," kata Gatot saat memberi pembekalan kepada peserta Apel Mitra Informasi Garuda Sewasana di Bogor, 29 Mei 2016.

Ia mengatakan, pertumbuhan penduduk akan berbanding lurus dengan kebutuhan pasokan pangan, air, dan energi. Ia memprediksi energi akan habis pada 2043. Kondisi inilah yang dapat memicu perang di masa depan.

"Ke depan, energi itu bisa digantikan dengan hayati, dan kekayaan alam hayati ada di negara ekuator, terutama di Indonesia. Maka, Indonesia akan menjadi lumbung pangan, air sekaligus juga lumbung pengganti energi hayati," ujarnya.

Sebagai orang nomor satu di TNI, tentu saja peringatan berulang-ulang yang disampaikan oleh Gatot bukan tanpa bukti dan fakta. Pernyataan itu juga sangat relevan bila dikaitkan dengan pengelolaan pangan saat ini sehingga harga kerap bergejolak menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Marilah kita sedikit menyimak berbagai hasil riset dari para ahli. Para ahli memperkirakan penduduk dunia pada 2043 mencapai 12,3 miliar orang. Dari jumlah ini, sekitar 9,8 miliar hidup di kawasan non-Khatulistiwa. Tahun 2017, para ahli statistik bahkan memprediksi penduduk dunia sudah melampaui kapasitas planet bumi. Dua tahun lagi populasinya sudah mencapai 8 miliar orang.

Perang di kawasan Khatulistiwa makin mengancam ketika cadangan sumber daya alam di dunia mengering. Dari berbagai data terungkap, sisa cadangan minyak dunia tinggal 45 tahun lagi. Padahal, sekitar 70% konflik dunia dipicu oleh perebutan sumber energi itu. Persoalan krisis energi makin runyam karena penggunaan bahan bakar hayati atau biofuel malah memicu krisis pangan dunia. Sementara itu laju deforestasi di Utara dan Selatan bukan saja menyumbang besar terjadinya iklim ekstrim akibat pemanasan global, tapi juga menggerus ketersediaan air di planet bumi akibat rusaknya ruang terbuka hijau sebagai lumbung resapan air.

Dalam konteks inilah Gatot memperingatkan bahwa pangan, air bersih dan energi Indonesia dan negara-negara di kawasan garis Khatulistiwa lainnya akan menjadi rebutan negara-negara kuat.

Perang di kawasan itu makin terbuka ketika pemerintah tidak becus mengelola kekayaan alam yang ada. Pertumbuhan ekonomi yang dinikmati rakyat tidak merata, lebarnya kesenjangan sosial, korupsi merajalela, dan rasa aman warga terganggu. Semua situasi buruk ini selalu menggoda negara-negara kuat untuk cawe-cawe.

Konflik berdarah di kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin yang dikenal kaya mineral kerap melibatkan negara-negara kuat. Celakanya, konflik itu seringkali dipicu perebutan kekayaan alam sehingga semakin memperkuat negara-negara maju untuk melakukan intervensi.

Riset yang dilakukan situs ini menunjukkan, sejak beberapa tahun lalu militer Amerika Serikat (AS) sudah mengkapling-kapling Afrika sebagai zona militernya melalui kerjasama pertahanan dengan puluhan negara di Afrika. Sampai tahun 2012, Pentagon telah mengikat kerjasama bilateral militer dengan 35 dari 53 negara-negara di benua hitam tersebut. Bahkan, sejak September 2014, Korps Marinir AS membangun pangkalannya di Gabon bersamaan dengan Senegal dan Ghana di Afrika Barat. Tujuannya hanya satu: mencegah China dan Rusia mencaplok kekayaan alam benua Afrika.

Seperti halnya di Afrika, negara-negara kuat juga saling berebut kekayaan alam di Timur Tengah dan Amerika Latin. Bagaimana dengan Indonesia? Bukan tak mungkin.

Asal tahu saja, Indonesia adalah salah satu negara Khatulistiwa paling strategis di dunia. Negara ini berada di antara Samudera Pasifik dan Hindia. Kondisi geografi dan geoekologis inilah yang membuat Indonesia memiliki keunggulan komparatif di dunia.

Kondisi strategis ini diperkuat oleh kekayaan alam yang berlimpah ruah. Di sini berlimpah minyak dan gas serta aneka tumbuhan dan buah. Makanya, tak salah kalau dulu band Koes Plus menciptakan lagu berjudul Kolam Susu.Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Demikian sepenggal syair lagu tersebut yang menggambarkan besarnya kekayaan sumber daya alam Indonesia.

Dengan segala keistimewaan yang dimiliki itu, negeri ini jadi rebutan pengaruh negara-negara kuat, terutama antara AS dan China.

Memang, sampai kini Indonesia tidak bergabung ke dalam Pakta Pertahanan manapun. Sebab, sebagai negara berdaulat, konstitusi RI mengikat politik luar negerinya dilaksanakan secara bebas-aktif; tidak memihak blok Barat dan Timur. Tapi dalam konteks kekinian, Indonesia mau tidak mau harus melayani kepentingan perekonomian raksasa kedua blok tersebut, dalam hal ini AS dan China. [lat]

Komentar

 
Embed Widget

x