Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 23 Agustus 2017 | 11:25 WIB

Kenapa RAPBN 2018 Terlalu Ambisius?

Oleh : M Fadil Djailani | Minggu, 21 Mei 2017 | 06:32 WIB
Kenapa RAPBN 2018 Terlalu Ambisius?
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Dzulfian Syafrian memandang asumsi makro dalam RAPBN 2018 dari Menkeu terlalu ambisius.

"Jelas target ini terlalu ambisius dan boleh dibilang tidak realistis," kata dia di Jakarta, Sabtu (20/5/2017).

Dalam Rapat Paripurna DPR, Jumat (19/5/2017) kemarin, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Rancangan APBN 2018.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyampaikan untuk tahun 2018 pertumbuhan ekonomi ditargetkan bisa 5,4%-6,1%. Sementara inflasi terjadi di rentang 3,5% plus-minus 1%, nilai tukar Rp13.500-Rp13.800 per US$, serta suku bunga SPN 3 bulan sebesar 4,8-5,6%.

Asumsi makro lainnya, harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di level US$45-60 per barel. Sedangkan lifting migas diharapkan bisa 1.965-2.050 ribu barel per hari (bph).

Dia bilang asumsi makro yang dianggap terlalu ambisius, dikarenakan pemerintah kabinet kerja di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla tidak pernah mampu merealisasikan target-target di tahun anggaran sebelumnya.

Sebagai contoh, kata Dzulfian, tepatnya pada masa kampanye 2014, Jokowi-JK dengan suara lantang dan yakin menjanjikan akan membawa perekonomian Indonesia di atas 7%, padahal di kala itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya di kisaran 4%. Faktanya, hingga saat ini perekonomian hanya tumbuh 4%-5%, bahkan dalam setahun pertama bahkan hanya di bawah 5%.

Contoh kedua, adalah ketika pemerintahan kabinet kerja menetapkan penerimaan negara, khususnya dari penerimaan pajak pada 2015-2016. Padahal, kita ketahui bersama ketika itu harga minyak sedang jatuh, sedangkan penerimaan pajak stagnan. Alhasil, lanjut Dzulfian, konsekuensi target asal tembak seperti ini justru membuat pemerintah kesulitan sendiri, terlilit sarung sendiri.

"Perlu diingat bahwa Pemerintah Jokowi-JK ini memang sering kali memasang target yang tidak realistis," jelasnya.

Dengan berbagai target yang banyak tidak tercapai, maka pemerintahan mencari berbagai cara untuk menambal target-target yang tidak tercapai, seperti menerapkan program pengampunan pajak.

Dengan tren seperti ini, Dzulfian memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 5,2%-5,4%. Menurut dia, target yang lebih realistis tetapi tetap optimis dan tidak terkesan pesimis.

"Oleh karena itu, saya usul sebaiknya pemerintah memikir ulang kembali target pertumbuhan ekonominya dalam RAPBN 2018 ini, bukan hanya demi kebaikan kita bersama tapi juga menjaga kredibilitas Pemerintah di mata public domestic dan internasional," tuturnya.

 
x