Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 22:28 WIB

Target Ekonomi Besar, Tim Jokowi Kurang Trengginas

Oleh : Herdi sahrasad | Senin, 29 Mei 2017 | 04:09 WIB
Target Ekonomi Besar, Tim Jokowi Kurang Trengginas
Presiden Joko Widodo - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Presiden Joko Widodo berusaha keras menggapai target pertumbuhan ekonomi 6%. Ini menjadi tantangan berat bagi tim ekonominya. Apalagi, hingga Ramadan ini, ekonomi mengalami kontraksi atau penciutan.

Dari masih minusnya kinerja tim ekonomi yang dikomandani Menko Perekonomian Darmin Nasution, wajarlah bila desakan agar Presiden Jokowi melakukan perombakan kabinet (reshuffle) tak pernah surut. Semuanya adalah dalam rangka efektivitas kinerja dalam membangun perekonomian tinggi.

Harus diakui, kondisi perekonomian Indonesia pada era Jokowi, berada di masa yang sulit. Harga komoditas ekspor, tidak lagi menarik ditambah ketatnya likuiditas. Saat ini, kondisi likuiditas sudah terlampau tinggi, hingga 93%. Mau tak mau, pola pendanaan mulai bergeser melalui pasar modal.

"Zaman Pak Jokowi harga komoditas turun, LDR (Loan to Deposit Ratio) naik 93% memang sudah tinggi, susah. Nah sekarang mau cari pendanaan mau tidak mau lewat pasar modal dana investasi jangka panjang, pasar modal kemudahan akses infrastruktur dari go public," kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio

Rakyat sangat berharap, kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada 2014-2019, mampu menghasilkan pemerintahan mumpuni. Dengan Nawa Cita-nya, Jokowi menjanjikan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang bertumpu pada industri manufaktur, pangan, sektor maritim, dan pariwisata.

Nyatanya, sejauh ini, kinerja Jokowi-JK dalam angka pertumbuhan ekonomi, masih gagal menandingi prestasi Susilo Bambang Yudhoyono. Hingga 2015, pertumbuhan ekonomi semakin melemah. Pemerintah pun sudah menganalisa, pertumbuhan ekonomi 2016 maksimal 5,1%. Namun banyak ekonom hanya menaruh angka 5%. Termasuk pada 2017, pasca tax amnesty, diperkirakan tak bisa beranjak jauh dari 5%.

Artinya, duet Jokowi-JK menghadapi tantangan berat dalam merealisasikan janji akselerasi perekonomian nasional 2017. Karena, ya itu tadi, semakin banyak hambatan yang bakal menyulitkan tim ekonomi Kabinet Kerja.

Apalagi, masih seperti tahun-tahun sebelumnya, risiko fiskal tetap membayangi perekonomian Indonesia di 2017. Risiko fiskal adalah hal utama penghalang ekonomi nasional. Shortfall pajak (selisih kekurangan penerimaan pajak terhadap target) berpotensi terjadi, sehingga defisit anggaran dikhawatirkan terus melebar.

Dalam APBN-Perubahan 2016, misalnya, pemerintah mematok target penerimaan pajak Rp 1.355,2 triliun. Namun realisasinya hanya Rp 1.104,9 triliun, atau shortfall sebesar Rp 250,3 triliun.

Sementara tahun ini, pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp 1.307,3 triliun. Para analis ekonomi memperkirakan adanya shortfall di kisaran Rp 120 triliun hingga Rp 127 triliun. Sehingga diprediksi realisasi penerimaan pajak sepanjang 2017 sebesar Rp 1.180,3 triliun hingga Rp1.187,3 triliun.

Pemerintah berupaya untuk mengumpulkan penerimaan pajak. Namun diperkirakan tidak bisa mencapai angka yang ditargetkan. "Sehingga penerimaan pajak mungkin akan berkurang atau shortage. Kalau tahun lalu Rp 250 triliun, tahun ini setengahnya lah Rp 120 triliun-Rp 127 triliun," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri, Anton Gunawan

Anton Gunawan memerkirakan, perkembangan ekonomi sampai Ramadan ini, belum bisa dibilang pulih dengan cepat. Ia melihat masih adanya beberapa hambatan untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, walaupun ada perbaikan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi masih sulit mencapai angka yang lebih tinggi lantaran adanya sejumlah hambatan.

Para analis memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini, mencapai 5,1%. Untuk sebagian, hal itu disebabkan oleh ekspektasi konsumen enam bulan ke depan yang mengalami penurunan, khususnya untuk konsumen dengan pendapatan tinggi.

Selain itu, belanja modal pemerintah yang realisasinya diperkirakan membaik, terbukti belum signifikan sehingga masih perlu dilihat lebih jauh kekuatan belanja modal dalam mendorong investasi swasta. Apalagi net ekpsor diperkirakan tidak terlalu besar karena kinerja impor sebagai faktor pengurang ekspor berpotensi meningkat. Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan hanya mencapai 5,1% dan sulit untuk melebihi angka itu.

Kenyataan ini memang menggelisahkan Jokowi dan kabinetnya, namun bersikap realistis juga tak cukup. Maka perombakan tim ekuin kabinet diharapkan bisa melahirkan terobosan untuk memperbaiki keadaan, dan mencuatkan harapan. Sebab dengan adanya harapan, maka rakyat punya semangat kerja dan kreatifitas menghadapi masa depan.

Ingat bahwa kepemimpinan yang melambangkan harapan, adalah sumber inspirasi, spirit dan motivasi kinerja masyarakat dan dunia usaha. Presiden Jokowi masih punya kesempatan dua tahun, dan perombakan tim ekuin kabinet merupakan pilihan untuk menerbitkan harapan dan memompa kinerja tim ekuin kabinetnya agar mencari terobosan.

Tentu reshuffle itu diharapkan tenang tanpa kegaduhan. Akankah Presiden Jokowi melakukan reshuffle? Kita tunggu saja. Selamat Ramadan. [ipe]

Komentar

 
x