Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 27 Juni 2017 | 15:40 WIB

Kepala Daerah Kalbar Pantau OP Bawang Putih

Oleh : - | Rabu, 31 Mei 2017 | 05:10 WIB
Kepala Daerah Kalbar Pantau OP Bawang Putih
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Pontianak - Fenomena mahalnya bawang putih di sejumlah daerah mendorong kepala daerah untuk aktif blusukan ke pasar. Termasuk Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya serta Wali Kota Pontianak, Sutarmidji.

Pada Selasa (30/5/2017), kedua kepala daerah itu memantau langsung operasi pasar (OP) bawang putih di Pasar Flamboyan dan Pasar Mawar, Pontianak, Kalimantan Barat.

Operasi pasar digelar Pemkot Pontianak dan Pemprov Kalimantan Barat, bersama tiga perusahaan swasta yakni PT Maju Sukses Bersama, PT Cahaya Bintang Gemilang, dan PT Tunas Maju Mandiri. "Hari ini pasokan bawang putih yang didrop sebanyak 120 ton dari Kementerian Perdagangan. Saya berharap mulai hari ini harga bawang putih bisa di bawah Rp38 ribu," ujar Sutarmidji.

Apabila setelah operasi pasar digelar, harga bawang putih masih tinggi, kata Sutarmidji, tidak perlu khawatir. Karena, masih ada stok untuk menjual secara eceran di bawah harga tersebut.

"Kita lihat setelah digelarnya operasi pasar ini, kalau masih harga bawang putih di atas Rp38 ribu, kita akan jual secara eceran. Pemkot punya stok sekitar 20 ton hingga 30 ton. Kita akan ecer, kalau perlu saya akan subsidi di bawah harga pasaran," papar Sutarmidji.

Tindakan itu diambil untuk mencegah munculnya spekulan-spekulan yang mencari keuntungan dengan menjual di atas patokan harga tertinggi. Dengan demikian, mereka yang menyimpan atau menimbun stok bawang putih dipastikan tidak akan laku terjual.

"Pedagang harus jual di bawah Rp38 ribu. Kalau tidak, kita akan jual eceran lewat koperasi, Pemkot akan mengecer bawang putih dengan harga di bawah harga tertinggi. Kalau perlu kita subsidi di bawah Rp30 ribu," kata Sutarmidji.

Bahkan, bila masih ada spekulan-spekulan bawang putih, pihaknya akan melibatkan Polresta dengan menurunkan tim untuk menelusurinya. "Kita pasti tindak, kalau memang dia beli dari sini terus dijual dengan harga sangat tinggi, kita sita bawang putihnya," kata Sutarmidji.

Diakui, minimnya persediaan bawang putih, disebabkan tidak adanya produsen yang bisa memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri sehingga sebagian besar harus diimpor dari luar. Apalagi, kebutuhan bawang putih di Kalbar umumnya dan Pontianak khususnya, lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Hal ini disebabkan jenis makanan di Pontianak banyak yang menggunakan bawang putih sebagai bahan dasarnya. Meskipun diakui Wali Kota dua periode ini tidak mengetahui persis persentase kebutuhan bawang putih di Pontianak, semestinya persoalan ini sudah bisa diantisipasi.

"Harusnya ini sudah terdeteksi dari awal sehingga tata niaga bawang putih betul-betul menjadi perhatian pemerintah pusat. Apalagi kita di Kalbar pasokan bawang putih tergantung dari luar. Semestinya di Kalbar ini ada agen bawang putih di sini," papar Sutardji. [tar]

 
x