Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 24 Agustus 2017 | 13:48 WIB

Jangan Remehkan Inflasi Pangan di Bulan Ramadan

Oleh : - | Senin, 5 Juni 2017 | 01:39 WIB
Jangan Remehkan Inflasi Pangan di Bulan Ramadan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan, kenaikan harga bahan makanan menjadi penyumbang utama inflasi Mei 2017 yang sebesar 0,39%.

"Kenaikan harga terjadi di seluruh kelompok pengeluaran, semua mengalami inflasi dengan kisaran berbeda," kata Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dengan inflasi pada Mei tercatat sebesar 0,39%, maka inflasi tahun kalender Januari-Mei mencapai 1,67%, dan inflasi dari tahun ke tahun (year on year) sebesar 4,33%.

Kecuk mengatakan, kelompok bahan makanan menyumbang inflasi 0,86%. Karena mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan menjelang Ramadan, yang masuk pada minggu keempat Mei 2017.

Beberapa komoditas yang kenaikan harganya menyumbang inflasi adalah bawang putih yang menyumbang inflasi 0,08%, telur ayam ras 0,05%, daging ayam ras menyumbang 0,04%, serta beras, serta daging sapi dan cabai merah masing-masing 0,01%.

"Untuk bawang putih, minggu keempat ini, harganya mulai turun. Namun rata-rata bulan Mei, komoditas ini masih memberikan andil terhadap inflasi," kata kecuk.

Meski demikian terdapat komoditas yang harganya mulai mengalami penurunan sehingga mampu menekan inflasi dan menyumbang deflasi yaitu cabai rawit (0,04%), bawang merah (0,02%) dan tomat (0,01%).

Kelompok pengeluaran lain yang ikut menyumbang inflasi adalah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,38%), terpengaruh kenaikan harga nasi dengan lauk, rokok kretek dan rokok kretek filter.

"Namun, harga gula pasir mengalami penurunan dan menyumbang deflasi 0,01 persen, karena kebijakan Kementerian Perdagangan yang menetapkan harga eceran tertinggi," ujar Kecuk.

Kelompok pengeluaran lainnya adalah perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang menyumbang inflasi sebesar 0,35%, karena masih terdampak dari penyesuaian tarif listrik dengan daya 900 VA pada periode ini.

"Penyesuaian tarif listrik ini menyumbang inflasi 0,06 persen. Penyesuaian tarif pasca bayar pada Mei ini bisa berdampak pada Juni," kata Kecuk.

Kecuk menambahkan, kelompok kesehatan menyumbang inflasi 0,37%, karena naiknya tarif rumah sakit dan kelompok sandang mengalami inflasi 0,23%, karena naiknya harga baju muslim perempuan.

Sementara kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, ikut menyumbang inflasi sebesar 0,23%, karena naiknya harga bensin jenis pertamax dan pertamax plus serta tarif angkutan udara.

"Meski demikian tarif pulsa untuk ponsel mengalami penurunan dan tercatat deflasi pada Mei sebesar 0,01 persen," kata Suhariyanto.

Kelompok pengeluaran lainnya yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga juga menyumbang inflasi sebesar 0,03% pada Mei 2017.

Secara keseluruhan, komponen harga bergejolak mempengaruhi inflasi Mei karena mengalami inflasi hingga 0,91%, diikuti harga diatur pemerintah 0,69%, dan komponen inti sebesar 0,16%.

Sementara itu, dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 70 kota tercatat mengalami inflasi dan 12 kota menyumbang deflasi pada Mei 2017.

Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 0,96% dan terendah terjadi di Sampit dan Bulukumba masing-masing sebesar 0,02%. Sedangkan, deflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,13% dan terendah di Pematangsiantar sebesar 0,01%. [tar]

 
x