Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 25 Juni 2017 | 08:53 WIB

Harga Gula di Atas HET, Harus Ada Sanksi

Oleh : Latihono Sujantyo | Rabu, 7 Juni 2017 | 13:30 WIB
Harga Gula di Atas HET, Harus Ada Sanksi
Gula pasir - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Harga gula pasir sudah di atas harga eceran tertinggi (HET). Ada kesepakatan yang dilanggar dalam rapat Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan produsen dan distributor gula?

Kementerian Perdagangan boleh saja menetapkan harga eceran tertinggi (HET) penjualan gula pasir di pasar sebesar Rp12.500 per kg, tapi fakta di lapangan berbicara lain. Harga gula pasir di berbagai pasar tradisional sejak awal pertengahan Mei hingga pekan pertama bulan Juni ini terus bergerak naik hingga menjadi Rp15.000 per kg.

Padahal sekitar awal April lalu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sudah mencapai kata sepakat dengan para produsen dan distributor gula pasir bahwa HET gula pasir adalah Rp12.500 per kg. Dalam pertemuan di Kantor Kementerian Perdagangan disepakati jika ada yang melanggar, akan disikat.

"Saya sudah capek," kata Enggar dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa saat itu di kantornya. "Ini risiko yang saya harus ambil."

Tidak disebutkan oleh Enggar apakah dalam pertemuan tersebut juga dilibatkan para pengendali gula pasir, yang selama ini dikenal dengan julukan "Tujuh Samurai". Enggar sendiri tidak menampik keberadaan kartel ini.

Tapi yang jelas, dalam rapat tersebut Enggar bersikap keras. Mereka didudukkan di satu meja, diminta membahas sampai tuntas berapa patokan harga jual gula yang bisa disepakati. Lewat perdebatan alot hingga dinihari, akhirnya disepakati HET gula pasir sebesar Rp12.500 per kg.

Tapi kenapa harga gula pasir di pasar saat ini menjadi Rp15.000 per kg? Artinya, dengan harga sebesar itu, ada kesepakatan yang dilanggar, entah itu oleh produsen atau distributor, atau permainan pedagang gula pasir di pasar. Kementerian Perdagangan harus segera menelusuri di level mana kenaikan harga itu terjadi, dan apa sanksi yang akan diberikan.

Sudah bukan rahasia lagi, selama ini pasar gula pasir di Indonesia dikuasai "Tujuh Samurai". Mereka membeli sebagian besar tebu melalui sistem lelang yang menguntungkan pihak mereka. Mereka juga mengelola sebagian besar jaringan distribusi dan ritel. Akhirnya, harga eceran gula didikte oleh mereka.

Nawir Messi, saat masih menjadi Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bahkan mengakui "Tujuh Samurai" gula ini sangat berkuasa di pasar.

Para pedagang lain menyebut jumlah samurai mencapai sekitar sembilan perusahaan. Mereka mengepalai perusahaan-perusahaan perdagangan gula non-publik milik keluarga yang telah melakukan bisnis gula berpuluh tahun lamanya. Perusahaan-perusahaan ini hampir tidak dikenal di luar industri gula di Indonesia.

Lelang biasanya dilakukan selama musim panen Mei-Desember. Kemudian gula diproses di 62 penggilingan yang dimiliki negara.

Sebagian besar gula ini kemudian dilelang di tempat-tempat yang dikelola para penggilingan. Samurai kemudian mendapat keuntungan melalui pengaturan yang sudah berlangsung satu dekade, dimana mereka telah meminjamkan uang kepada petani untuk menanam kembali. Beberapa petani membayar bunga sementara yang lainnya berbagi keuntungan. Namun di bawah kedua skema tersebut, samurai mendapatkan hak lelang yang lebih.

Sebagai contoh, samurai berhak membeli sampai 50% dari pemenangan lelang manapun, dengan harga yang sama, untuk tanaman yang mereka biayai.

Tidak ada data yang akurat mengenai berapa banyak gula yang dibeli pada setiap lelang. Namun para pedagang lain menyebutkan bahwa para samurai menguasai mayoritas besar hasil pelelangan.

Di atas itu semua, para samurai telah memperketat kontrol untuk saluran-saluran ritel dan pengiriman melalui layanan transportasi, gudang dan agen mereka selama bertahun-tahun.

Menurut Organisasi Gula Internasional, orang Indonesia mengkonsumsi lebih banyak gula dibandingkan orang Asia pada umumnya, yaitu 22,9 kg per orang per tahun sementara negara Asia lainnya rata-rata 17 kg per orang per tahun.

Harga gula di Indonesia juga lebih mahal, atau 60% lebih tinggi dibandingkan Thailand, misalnya, yang juga merupakan produsen gula.

Samurai mulai mendominasi pasar gula putih setelah krisis keuangan Asia 1998, saat Presiden Soeharto lengser dan Dana Moneter Internasional (IMF) memaksakan serangkaian kebijakan reformasi pertanian sebagai imbal balik pinjaman.

KPPU sempat merekomendasikan agar pemerintah membuat peta jalan (roadmap) untuk industri guna mendukung terciptanya industri yang kompetitif. [lat]

 
x