Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 25 Juni 2017 | 08:52 WIB

Lawan Kampanye Hitam Sawit, RI Ajak Kolombia

Oleh : - | Senin, 12 Juni 2017 | 02:29 WIB
Lawan Kampanye Hitam Sawit, RI Ajak Kolombia
Dubes Indonesia untuk Kolombia, Priyo Iswanto - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Indonesia mengajak Kolombia bersama-sama melawan kampanye hitam sawit. Yang tujuannya menekan harga minyak sawit dunia tetap rendah

Ajakan ini disampaikan Dubes Indonesia untuk Kolombia, Priyo Iswanto saat membuka Kongres Nasional ke-45 Penanam Sawit Kolombia di Centro de Convenciones Puerta de Oro, Kota Barranquilla, Provinsi Atlantico, Kolombia, dikutip dari siaran pers di Jakarta, Minggu (11/6/2017).

Ia mengatakan untuk melawan kampanye tersebut tidak ada jalan lain kecuali negara produsen bergabung sembari memperkuat kelembagaan Dewan Negara yang menghimpun dana untuk menjaga stabilitas harga sawit dunia.

Menurut Priyo, negara produsen sawit sudah menerapkan program sustainability atau keberlanjutan industri kelapa sawit. Oleh karenanya, negara penghasil kelapa sawit perlu bersatu melawan kampanye negatif terhadap minyak kelapa sawit yang tidak berlandaskan pada fakta yang sesungguhnya.

"Resolusi Parlemen Uni Eropa terkait Kelapa Sawit dan Deforestasi merupakan kebijakan perdagangan yang bertujuan untuk melindungi kepentingan industri minyak nabati mereka sendiri. Karena itu saya mengajak negara-negara penghasil sawit, termasuk Kolombia, untuk bersama-sama memerangi kebijakan tersebut," kata Priyo.

Priyo diundang pada Kongres Nasional itu sebagai tamu kehormatan mewakili negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. "Kolombia ingin belajar banyak dari Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, karenanya berkepentingan juga melibatkan Indonesia sebagai negara produsen," kata Priyo.

Priyo juga mengundang Kolombia untuk bergabung dalam Dewan Negara, yakni produsen sawit dalam menghimpun dananya guna menjaga kestabilan harga minyak sawit dunia. "JIka kita cukup dana, dapat dijadikan semacam buffer stocks, yakni dana cadangan, guna mengampu harga sawit saat turun," kata Priyo.

Merespons positif terhadap tawaran itu, Priyo mengatakan Kolombia merespon positif dan bahkan akan banyak belajar dengan Indonesia khususnya soal penanaman sawit yang menjadi basis bagian dari pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kolombia tertarik ingin menjadi anggota dewan negara-negara penghasil minyak sawit dunia," demikian disampaikan Presiden Eksekutif Asosiasi Penanam Sawit Kolombia Jens Mesa Dishington," kata Priyo.

Apresiasi positif terhadap kebijakan Indonesia di bidang kelapa sawit bukan hanya dari pihak Kolombia, tetapi juga datang dari tamu undangan lain, salah satunya James Fry (Oxford University) CEO LMC International yang bermarkas di Inggris.

Ia mengatakan pembentukan dana sawit di Indonesia untuk menjaga stabilitas harga minyak kelapa sawit dunia serta daya saing minyak kelapa sawit dibanding minyak nabati lain merupakan suatu terobosan baru di industri kelapa sawit dunia yang patut diapresiasi oleh seluruh pelaku industri kelapa sawit dunia.

"Pemberlakuan pajak ekspor kelapa sawit Indonesia oleh Pemerintah Indonesia membentuk dana sawit merupakan suatu kebijakan pintar dan saya memuji kebijakan itu," kata James Fry.

Pada Kongres Nasional ke-45 itu, Menteri Pertanian dan Pembangunan Rural Kolombia Aurelio Iragorri Valencia mengatakan Indonesia dapat dijadikan model.

Jumlah pekerja yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung di industri kelapa sawit Indonesia merupakan bukti bagaimana perkebunan sawit dapat menjadi penyumbang terbesar lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi negara.

"Kolombia ingin belajar banyak dari Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia," ujarnya.

Ia juga menunjukkan sebuah data, Kolombia merupakan penghasil kelapa sawit ke-4 terbesar di dunia dengan produksi 1,28 juta ton per tahun dengan jumlah area perkebunan sawit sebesar 500 ribu hektare.

Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar dengan volume di atas 33 juta ton per tahun. Jumlah area perkebunan sawit di atas 11 juta hektare.

Suksesnya komoditas kelapa sawit di pasar internasional merupakan prospek perkebunan minyak nabati yang menjanjikan khususnya menyediakan lapangan pekerjaan dalam rangka implementasi perjanjian perdamaian yang disepakati pemerintah Kolombia dengan pemberontak kelompok kiri Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia pada November 2016. [tar]

 
x