Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 26 Juni 2017 | 01:57 WIB

Delapan Kali BI Tahan Suku Bunga, Ini Alasannya

Oleh : - | Jumat, 16 Juni 2017 | 06:09 WIB
Delapan Kali BI Tahan Suku Bunga, Ini Alasannya
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (7-Day Reverse Repo Rate/7DRR) di level 4,75%. Untuk jaga-jaga efek penaikan suku bunga The Fed.

"Ini demi menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendukung berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik. Khususnya mengantisipasi kenaikan bunga The Fed, menjaga inflasi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara di Gedung BI, Jakarta, Kamis (15/6/2017).

Sementara bunga simpanan di BI (Deposit Facility) dipertahankan 4%. Sementara bunga fasilitas penyediaan dana dari BI ke perbankan (lending facility) juga anteng di posisi 5,5%.

Terakhir kali, BI 7 Day Reverse Repo Rate mengalami perubahan pada 20 Oktober 2016, saat turun dari lima persen menjadi 5,75 persen.

Bank Sentral juga masih mempertahankan kebijakan moneter yang netral. BI akan menyesuaikan kebijakan moneternya jika timbul potensi kenaikan inflasi hingga melebihi sasaran inflasi BI di 3-5%.

Menurut Tirta, kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) pada bulan ini, menjadi 1-1,25% perlu diantisipasi. Agar pasar keuangan Indonesia tetap bergerak positif.

Di sisi lain, perekonomian global diperkirakan membaik yang ditopang mulai membaiknya ekonomi Amerika Serikat karena konsumsi dan investasi yang menggeliat serta indikator ketenagakerjaan yang membaik.

Selain itu, membaiknya ekonomi global juga sejalan dengan membaiknya ekonomi China yang ditopang oleh investasi pemerintah dan swasta. BI juga melihat ekonomi Eropa dan Jepang membaik yang didukung oleh meningkatnya kinerja ekspor dan permintaan domestik.

Walaupun harga komoditas global ke depan diperkirakan akan bias ke bawah karena tingginya pasokan dan masih terbatasnya permintaan.

Namun, bank sentral melihat masih adanya tekanan eksternal, yaitu kelanjutan kenaikan suku bunga acuan The Fed, penurunan neraca The Fed, dan dinamika politik di Inggris.

Sementara risiko yang datang dari domestik, yaitu terkait dengan tekanan inflasi kelompok tarif yang diatur pemerintah (administered prices) dan dampaknya terhadap inflasi keseluruhan di tahun ini. Bank sentral juga mencermati risiko lemahnya permintaan masyarakat dan swasta karena konsolidasi korporasi dan perbankan. [tar]

 
Embed Widget

x