Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 25 Juni 2017 | 08:44 WIB

Harapan Besar BI kepada Paket Ekonomi Jilid XV

Oleh : - | Sabtu, 17 Juni 2017 | 02:29 WIB
Harapan Besar BI kepada Paket Ekonomi Jilid XV
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo - (Foto: inilahcom/M. Fadil Djailani)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Paket kebijakan ekonomi djilid XV tentang logistik yang baru diluncurkan, diharapkan bisa mendorong neraca transaksi berjalan. Agar defisit tidak melebar.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo bilang, paket kebijakan ekonomi jilid XV yang diluncurkan Menko Perekonomian Darmin Nasution, diharapkan bisa menyelamatkan neraca transaksi berjalan dari defisit. Pada triwulan I-2017, posisinya masih minus 0,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Atau setara US$2,1 miliar.

"Masalah utama yang menyebabkan neraca jasa masih defisit bersumber dari sektor transportasi, di mana kegiatan ekspor masih banyak mengandalkan kapal-kapal milik perusahaan asing," ujar Agus di Gedung BI, Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Sumber Daya Manusia di industri kemaritiman, kata Agus, masih banyak memanfaatkan pekerja asing. Alhasil. pembayaran jasa banyak mengalir dalam bentuk valas dan tersalurkan ke luar negeri. "Masalah struktural ada di neraca jasa yang kontribusinya paling besar ada di transportasi. 80-90 persen ekspor dari Indonesia gunakan kapal asing dan kontainer juga sewa asing," terang mantan menteri keuangan era SBY ini.

"Bukan bermaksud kami anti-asing. Namun harus diperbaiki tidak bisa dibiarkan ekspor, tapi malah gunakan jasa transportasi yang tidak dimiliki Indonesia," tambah Agus yang sempat diperiksa KPK lantaran kasus dugaan korupsi e-KTP.

Pada triwulan I-2017, neraca jasa mengalami defisit US$1,3 miliar. Capaian ini memang turun dibanding triwulan IV-2016 yang mencapai US$2 miliar.

Agus mengharapkan pemerintah dapat mengeksekusi paket kebijakan ke-15 dengan lancar dan baik. Agus masih mempertahankan prediksinya bahwa neraca transaksi berjalan masih akan defisit sekitar dua persen dari PDB pada tahun ini.

Neraca jasa merupakan bagian dari neraca transaksi berjalan. Selain neraca jasa, terdapat neraca perdagangan, neraca pendapatan primer dan sekunder.

Sedangkan untuk neraca pendapatan primer, tertolong derasnya investasi asing scara. Sementara besarnya deviden dan bunga dari investasi tersebut, harus dibayarkan ke luar negeri. Di triwulan I-2017, defisit neraca pendapatan primer mencapai US$7,5 miliar.

Pada Kamis (15/6/2017), pemerintah menerbitkan paket kebijakan ekonomi ke-15 yang difokuskan tiga sasaran yakni pertama adalah pemberian kesempatan untuk meningkatkan peran dan skala usaha, dengan kebijakan yang memberikan peluang bisnis untuk angkutan dan asuransi nasional dalam mengangkut barang ekspor impor, serta meningkatkan usaha galangan kapal atau pemeliharaan kapal di dalam negeri.

Kedua, kemudahan berusaha dan pengurangan beban biaya bagi usaha penyedia jasa logistik nasional. Ketiga, penguatan kelembagaan dan kewenangan Indonesia National Single Window (INSW). [tar]

 
Embed Widget

x