Find and Follow Us

Selasa, 18 Juni 2019 | 20:54 WIB

Warteg Kharisma Bahari di Tengah Serbuan Asing

Kamis, 29 Juni 2017 | 00:43 WIB
Warteg Kharisma Bahari di Tengah Serbuan Asing
Warteg Kharisma Bahari - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Dengan warung makan bersih dan terang, Sayudi ingin menghapus prasangka bahwa warung tegal adalah bisnis kumuh tanpa prospek.

Di tengah serbuan bisnis waralaba bermerek asing yang kian gencar, seorang pengusaha kuliner diam-diam terus memperluas jaringan waralaba khas warung tegal di wilayah Jakarta, Bogor Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Meskipun kini sudah berhasil membangun 110 warung, pemilik waralaba itu masih mengandalkan rasa saling percaya dan manajemen sederhana.

"Saya hanya ingin membantu teman-teman untuk memulai bisnis dengan modal minim dan saling percaya. Kalau warung bersih dan makanannya cukup enak, warteg ini pasti laris," kata Sayudi (43), pemilik warung tegal berlabel Kharisma Bahari. Pria yang sudah merintis bisnis warteg sejak tahun 1996 di Cilandak, Jakarta Selatan, itu kini dikenal sebagai raja waralaba warteg bersih.

Seluruh warungnya berbentuk ruangan persegi yang tampak bersih, berlampu terang dan memakai cat warna kuning dan hijau yang mencolok. Penataan etalase makanannya sama dengan warteg lainnya, lengkap dengan bangku kayu atau plastik. Menu masakannya pun mirip, dari soto ayam, orek tempe, telur balado, semur jengkol, sayur sop, tumis kangkung, juga tempe/tahu goreng.

Sayudi menjual waralabanya dengan sistem yang unik. Kalau Anda punya uang Rp100 juta sampai Rp130 juta, boleh membeli merek dagang Kharisma Bahari, mendapat peralatan komplet, serta disewakan lahan dan bangunan warung selama satu tahun. "Tidak perlu bayar komisi lagi, tinggal memperpanjang sewa lahan dan bangunan untuk tahun berikutnya," kata pria lulusan Sekolah Dasar tersebut.

Kalau modal tidak sebanyak itu, bayar saja 50% dan mencicil sisanya dalam tempo satu-dua tahun. Punya lahan yang cukup strategis? Perusahaan Sayudi siap memberi modal usaha, membangun warung dan peralatannya, serta memberikan pelatihan memasak sampai manajemen bisnis ringkas. Setiap bulan, si pemilik lahan membayar bagi hasil minimal Rp5 juta.

Berbeda dengan perusahaan waralaba lain yang mewajibkan mitranya membeli bahan baku dan peralatan standar, Sayudi memberikan pilihan yang bebas. Para mitra dapat membeli bahan baku dari pasar, pemasok lain, atau dari kelompok bisnis Kharisma Bahari. Meskipun makanan dimasak oleh koki-koki berbeda, Sayudi yakin kualitas dan rasa masih bisa diandalkan.

Bermitra dengan warga dari beragam etnis, Sayudi mengaku jarang bertemu mitra yang nakal. Dia bahkan tidak menetapkan pembayaran tetap untuk cicilan kredit modal wartegnya. "Kalau normal saja, satu warung bisa menghasilkan Rp10 juta sebulan. Walaupun setengahnya disetor buat kami, pemilik warung sudah bisa balik modal dalam satu-dua tahun," ujar pria yang memulai bisnis dengan dukungan istrinya yang pandai memasak tersebut.

Untuk melakukan kontrol, Sayudi sengaja membentuk arisan bulanan bagi mitra wartegnya. Selain sebagai sarana silaturahmi, para pewaralaba Kharisma Bahari itu bisa saling bertukar ilmu dan taktik dagang. Dengan cara saling bantu dan saling percaya inilah, Sayudi yakin bisnis waralaba wartegnya akan terus berkembang.

Sebagaimana pengusaha lainnya, Sayudi mengelak bila ditanya berapa pemasukan dari program waralaba Kharisma Bahari. "Prinsipnya, kalau bisnis saya bisa membuat orang lain sukses, saya juga tidak akan sampai kekurangan. Setiap orang sudah punya jatah rezeki sendiri-sendiri dari Allah SWT," ujar pria yang akrab disapa Yudika tersebut. [lat]

Komentar

x