Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 September 2017 | 08:37 WIB

Pemprov Jabar Jadi Objek Survei Data Ekraf

Oleh : - | Jumat, 7 Juli 2017 | 03:29 WIB
Pemprov Jabar Jadi Objek Survei Data Ekraf
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Bandung - Untuk kedua kalinya, Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), untuk menjaga kesinambungan serta memperkaya data ekonomi kreatif (ekraf).

Pada 2016, Bekraf menggandeng BPS dalam penyediaan data Produk Domestik Bruto (PDB), tenaga kerja, ekspor, Klarifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dan Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK).

Tahun ini, BPS dan Bekraf tidak hanya akan memperbaharui data 2016, namun juga menambah jumlah cakupan data. Yang meliputi profil usaha subsektor berdasarkan Survei Ekonomi 2016, penyediaan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI), data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), serta Tabel Input-Output (I-O) ekraf.

Berdasarkan hasil SKEK 2016, tiga subsektor ekonomi kreatif (ekraf) yang menjadi primadona adalah fashion, kriya, dan kuliner. Sedangkan usaha/perusahaan start up bidang ekraf cenderung dijumpai pada subsektor aplikasi dan games developer, industri musik, serta perfilman.

Guna memenuhi kebutuhan data enam subsektor ekraf tersebut, BPS-Bekraf pun memilih lima provinsi yang akan menjadi objek survei data, antara lain Jawa Barat, Sumatera Utara, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.

Kepala Bekraf, Triawan Munaf memaparkan, kelima provinsi tersebut dipilih berdasar pertumbuhan ekonomi kreatif. Di mana, ekraf yang dimaksud mencakup enam subsektor yang menjadi konsentrasi BPS-Bekraf. "Lima provinsi itu semua sudah bisa dijadikan contoh, sample yang mendekati sangat akurat untuk mewakili seluruh Indonesia," ungkap Triawan di Bandung, Kamis (06/07/2017).

"Tentunya idealnya seluruhnya bisa diukur secara detail, tapi sekarang kita lebih memenuhi semua itu dengan keterbatasan yang ada. Anggaran kami (BEKRAF) juga terbatas," lanjut Triawan.

Dari 16 subsektor ekonomi kreatif, kata dia, Bekraf ingin konsentrasi di enam subsektor. Di mana, ada tiga subsektor yang sudah besar, tiga lainnnya menjadi prioritas untuk dikembangkan. "Tiga yang sudah besar itu selain sudah besar dan percepatan pertumbuhannya luar biasa di Indonesia, tapi juga percepatan pertumbuhan ekspornya juga luar biasa," papar Triawan.

Terkait target rampungnya data, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menekankan, percepatan penyelesaian data akan dilakukan dengan menggabungkan data Sensus Ekonomi 2016 dan Survei Khusus Ekonomi Kreatif 2016. Diharapkan, data baru bisa dilaunching Desember 2017.

"Untuk bisa mengumpulkan data ekonomi kreatif, kita tidak bisa mengandalkan hanya dari satu survei, karena itu kita akan meng-combine berbagai sensus dan survei yang ada di BPS. Kita bikin target Desember 2017, hasilnya bisa dilaunching, tahun 2018 sudah bisa digunakan," kata Kecuk.

Terbukti, data ekraf dari BPS-Bekraf sukses meraih capaian-capaian positif. Pada 2015, sektor ekraf berkontribusi 7,38% terhadap total perekonomian nasional. PDB ekraf yang tercipta 2015 sebesar Rp852 triliun, naik 4,38% ketimbang 2014.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ekraf mampu menyerap 15,9 juta tenaga kerja, atau 13,90% dari total tenaga kerja 2015. Indikator lainnya adalah ekspor barang-barang ekraf senilai US$ 19,4 miliar. Atau 12,88% dari total ekspor pada 2015. [ipe]

 
x