Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 06:13 WIB

Subsidi Energi Jebol, APBN 2017 Dihitung Ulang

Oleh : - | Jumat, 7 Juli 2017 | 09:09 WIB
Subsidi Energi Jebol, APBN 2017 Dihitung Ulang
Menko Perekonomian Darmin Nasution - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Alokasi subsidi energi dalam RAPBN Perubahan (RAPBN) 2017, bengkak Rp25,8 triliun, menjadi Rp103,1 triliun. Sebelumnya disepakati (APBN 2017) sebesar Rp77,3 triliun.

Kenaikan ini salah satunya disebabkan oleh tren memulihnya harga minyak dunia yang membuat pemerintah menahan rencana untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan kenaikan harga elpiji 3 kilogram (kg). Artinya, urungnya niatan untuk menaikkan harga BBM dan elpiji 3 kg membuat pemerintah tekor atas subsidi energi.

Menko Perekonomian Darmin Nasution bilang, kebijakan menahan kenaikan harga BBM dan elpiji 3 kg diambil demi menjaga daya beli masyarakat. Apalagi, pelaku usaha ritel terus mengeluhkan lesunya daya beli masyarakat sejak awal 2017.

Kenaikan dua harga administered prices sekaligus, BBM dan elpiji 3 kg, dikhawatirkan akan membuat lonjakan inflasi secara signifikan. "Jadi titik tengahnya pemerintah menunda (kenaikan BBM dan elpiji 3 kg). Walau tentu, subsidi akan lebih banyak diberikan," ujar Darmin usai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Kamis (6/7/2017).

Darmin merinci, subsidi untuk BBM saja dialokasikan menjadi Rp 10,6 triliun dalam RAPBNP 2017. Nilai ini naik Rp 300 miliar dari alokasinya dalam APBN 2017 sebesar Rp 10,3 triliun. Sementara subsidi untuk elpiji 3 kg diberikan sebesar Rp 40,5 triliun, melonjak nyaris dua kali lipatnya dari alokasi di APBN 2017 sebesar Rp 22 triliun. Terpisah, subsidi listrik juga mengalami kenaikan dari Rp 45 triliun di APBN 2017 menjadi Rp 52 triliun dalam RAPBNP 2017.

Pemerintah mengklaim ada tiga alasan utama penyebab pembengkakan subsidi energi dalam revisi APBN 2017 ini. Pertama, adalah dampak perubahan parameter subsidi sebesar Rp 4,6 triliun dan alasan kedua, tidak berjalannya pembatasan alokasi subsidi untuk elpiji 3 kg atau distribusi tertutup yang potensi penghematannya sebesar Rp 10 triliun. Ketiga, seperti yang disebutkan di awal yakni penundaan penyerapan harga jual eceran elpiji 3 kg sebesar Rp 1.000 per kg.

Sementara itu, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menyebutkan bahwa perubahan alokasi subsidi energi memang berawal dari tidak berjalannya rencana distribusi tertutup elpiji 3 kg.

Tidak ada pilihan, pemerintah harus menaikkan harga elpiji 3 kg. Lagi-lagi mempertimbangkan efek terhadap daya beli masyarakat, pemerintah mengurungkan niat tersebut.

Untuk menutup defisit anggaran, termasuk menambal kebutuhan dalam menyalurkan subsidi energi, pemerintah berencana menambah pembiayaan utang dari Rp 384,7 triliun menjadi Rp461,3 triliun. [tar]

Komentar

 
x