Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 September 2017 | 13:56 WIB

OJK Terus Pelototi Tingginya NPL di Bali

Oleh : - | Minggu, 9 Juli 2017 | 17:19 WIB
OJK Terus Pelototi Tingginya NPL di Bali
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau upaya perbankan di Bali dalam memoles kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang tinggi baik di bank umum maupun bank perkreditan rakyat (BPR).

"Bila NPL makin tinggi tentu akan memperkecil perbankan memperoleh pendapatan sedangkan biaya terus mengalir keluar. Permodalan akan tergerus dan bila sampai tergerus hingga di bawah empat persen, sesuai peraturan lama itu akan masuk bank dalam pengawasan khusus," kata Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, Zulmi di Denpasar, Minggu (9/7/2017).

Menurut Zulmi, bank diberikan waktu selama enam bulan sesuai peraturan dalam pengawasan khusus. Apabila kondisi bank semakin memburuk sebelum pengawasan enam bulan, bank tersebut bisa dilikuidasi.

Likuidasi, lanjut dia, merupakan langkah alternatif akhir apabila bank tidak dapat menekan angka kredit bermasalah. NPL, lanjut Zulmi merupakan salah satu tolok ukur kesehatan bank dari sisi likuiditas.

Meningkatnya NPL akan mengurangi jumlah modal bank, mempengaruhi jumlah penyaluran kredit pada periode berikutnya dan berimbas berkurangnya deviden dan laba ditahan atau modal bank tersebut.

OJK mencatat total NPL perbankan di Bali pada April 2017, mencapai 3,41%. Atau naik dibandingkan Maret 2017 sebesar 3,2%. NPL tertinggi terjadi di BPR mencapai 7,07%, atau naik ketimbang Maret 2017 yang mencapai 6,71%. Juga leboh tinggi NPL Desember 2016 sebesar 4,91%.

Sedangkan untuk bank umum konvensional NPL hingga April 2017 menembus 2,89%. Atau lebih tinggi ketimbang Maret 2017 sebesar 2,71%.

Salah satu penyebab NPL tinggi, kata dia, karena masih banyak bank menyalurkan kredit ke sektor jenuh seperti sektor properti dan turunannya. "Ini menjadi penyebab utama karena sebagian kredit yang disalurkan ke sektor-sektor yang dulunya sudah jenuh dan sisanya kini mulai bermasalah," ucap Zulmi. [tar]

 
x