Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 04:48 WIB

Tahun Ini, Mampukah Industri TPT Tancap Gas?

Oleh : - | Senin, 10 Juli 2017 | 06:09 WIB
Tahun Ini, Mampukah Industri TPT Tancap Gas?
Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Perindustrian punya harapan besar terhadap industri tekstil dan produk tekstil. Tahun ini, pertumbuhannya diharapkan bisa 1,7%.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono bilang, target pertumbuhan idnustri TPT sebesar 1,6% hingga 1,7%, bukan sesuatu yang mustahil. Angka ini lebih tinggi ketimbang realisasi 2016 sebesar 1,2%.

"Untuk itu, insentif yang diperlukan guna mendorong kinerja industri TPT antara lain penurunan tarif energi listrik dan gas," kata Sigit melalui siaran pers kepada media di Jakarta, Minggu (9/7/2017).

Kata Sigit, pemerintah juga perlu memberikan perlindungan pasar di dalam negeri dari serbuan TPT impor ilegal, kemudahan akses penjualan, dan insentif ekspor.

Kemenperin mencatat, industri TPT mampu menyumbang devisa kepada negara sebesar US$11,87 miliar, atau 8,2% dari total ekspor nasional pada 2016. Sementara nilai ekspor sektor ini pada Januari-Mei 2017 mencapai US$5,11 juta, atau naik 3,40& dibandingkan periode sama 2016.

Industri TPT, kata Sigit, dapat berfungsi sebagai jaring pengaman sosial lantaran menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sepanjang Januari-Mei 2017, terserap 2,69 juta tenaga kerja, atau 17,03% dari total pekerja di industri manufaktur. Pada 2016, nilai investasi industri TPT mencapai Rp7,54 triliun.

"Selama tiga tahun terakhir, industri TPT nasional mengalami kontraksi dalam pertumbuhannya. Hal ini didorong oleh investasi baru maupun perluasan pabrik," ungkap Sigit.

Nilai investasi industri TPT sampai triwulan I-2017 untuk penanaman modal asing, mencapai US$174,51 ribu. Naik 17,98% dibandingkan periode yang sama 2016 sebesar US$147,92 ribu.

Sigit menyampaikan, produk domestik bruto (PDB) atas harga dasar berlaku untuk Industri TPT sepanjang triwulan I-2017, mencapai Rp35,98 triliun. Naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp35,60 triliun. "Pertumbuhan industri TPT pada triwulan I-2017 sekitar 0,03 persen dibandingkan periode sama 2016," tutur Sigit.

Menurut Sigit, tren kenaikan pertumbuhan produksi yang dialami industri tekstil dan pakaian jadi tersebut, dikontribusikan dari sektor skala mikro dan kecil dengan masing-masing menyumbang sekitar 7,96 persen dan 5,40 persen.

"Hal ini menunjukkan industri skala mikro, kecil dan menengah menjadi pemasok utama untuk pasar dalam negeri," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, potensi pasar domestik maupun global untuk industri TPT masih terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan semakin tingginya permintaan akan kebutuhan tekstil non-sandang. Misalnya, untuk kebutuhan rumah tangga dan furniture.

"Kami optimistis industri TPT nasional mampu berdaya saing global. Apalagi industri ini telah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional," ucapnya.

Namun, industri ini masih mengalami berbagai tantangan, salah satunya adalah kondisi permesinan yang mayoritas usianya sudah tua, terutama pada industri pertenunan dan perajutan.

"Upaya peremajaan mesin dan peralatan industri TPT yang selama ini kami lakukan sebenarnya telah menunjukkan perkembangan yang positif, namun perlu dilanjutkan dengan program akselerasi peningkatan daya saing yang lebih efektif dan terintegrasi," tutur Airlangga.

Bahkan, menurutnya, paket-paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah sebaiknya bisa dimanfaatkan oleh dunia usaha terutama industri TPT, karena saat inilah situasi yang tepat untuk meningkatkan investasi.

Selain itu, Kemenperin terus gencar mengajak masyarakat Indonesia untuk menggunakan produk dalam negeri sebagai dukungan bagi pertumbuhan industri TPT nasional.

Apalagi, tambah Sigit, saat ini Kemenperin tengah menggodok regulasi khusus untuk industri padat karya berorientasi ekspor, di mana akan mengatur tentang pemberian insentif fiskal berupa investment allowance. "Jadi, pelaku usaha akan mendapatkan diskon PPh yang harus dialokasikan untuk ekspansi usaha," ujar Sigit. [tar]

Komentar

 
x